• Karya WBU SC Sampai ke Negeri Belanda

PALEMBANG, HS – Kisah tentang para pejuang-pejuang industri rumahan di kota ini tak pernah lekang oleh waktu. Ada yang jatuh lalu bangun kembali demi meraih penghidupan keluarga yang laik. Pun tak sedikit dari pelaku industri kecil itu bertahan di hantam badai ekonomi.

Cerita potret pelaku industri kecil dan menengah di kota Palembang tiada pernah habisnya. Mereka datang ke bumi Sriwijaya ini dari berbagai daerah untuk menyambung hidup atau mengubah nasib. Bermodalkan keterampilan mengolah barang-barang sandang, Asni yang dibantu beberapa ibu rumah tangga coba peruntungan dengan menciptakan beragam produk tas.

“Alhamdulillah, saya beruntung bisa mendapatkan bantuan peralatan mesin jahit. Sepulang dari sini saya akan beritahukan ke warga yang bermukim di Pulokerto, Gandus. Ya, tujuannya jelas mari kita sama-sama manfaatkan alat ini sebaik mungkin,” ucap Asni setengah bangga usai penyerahan bantuan peralatan IKM, Daerah Potensial 2018, Kamis 25 Oktober 2018 di kediaman Yustin Zulkarnain di Jalan Baladewa, Padangselasa, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang.

Di sebelah Asni juga ada pelaku industri kerajinan bambu yang kini masih eksis. Namanya Zakaria. Lelaki paruh baya itu sebetulnya dalam menjalankan roda usaha terkendala oleh peralatan.

“Kalau dulu sih alat yang dipakai manual. Semoga kami bisa memproduksi kerajinan berbahanbaku dari bilah bambu sesuai permintaan pasar,” cetus Zakaria yang bermukim di 35 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II, Palembang.

Selain Asni dan Zakaria. Bantuan peralatan lainnya juga diserahkan pada Rosmawati dari Pulokerto, Nellyra Afrida dari 32 Ilir, Rukmiyati dari 32 Ilir, Ahmad Syafei dari 35 Ilir, Achmad Syamsuri dari Lorok Pakjo, Nurkasih dari 24 Ilir, Kgs Anwar dari 19 Ilir, RM Syarifuddin dari 19 Ilir, Yori Agus Cakura dari 16 Ulu, Muhammad Zaky dari Karya Baru, dan Sihabudin Ashari berasal dari 16 Ulu.

Membayangkan hasil produksi sekaligus menggantungkan hidup dari usaha rumahan. Itulah harapan bagi para pelaku industri usaha kecil yang tercecer di kota ini. Dan, tentu bukan tak mungkin kelak mereka akan tumbuh membesar kendati diawali dari sebuah jejak langkah kecil.

Heralina, Sekretaris Dinas Perindutrian dan Perdagangan Kota Palembang menyebutkan,  bantuan peralatan bagi sektor usaha industri sangat dinanti-nantikan oleh dunia usaha seperti rumahan.  Ia mengapresiasi dengan adanya penyerahan bantuan untuk industri kecil dan menengah tersebut.  Kali itu penerima bantuan tersebut dibagi menjadi IKM yaitu usaha sandang, furniture, dan kerajinan bambu.

“Bapak dan Ibu-Ibu yang memeroleh alat-alat ini kita harapkan bisa menghasilkan produk yang bermutu. Di samping itu, kita juga mengingatkan pergunakanlah peralatan-peralatan itu. Namun, bilamana alat-alat ini tidak dimanfaatkan maka kami akan menarik kembali dan akan diserahkan ke pelaku usaha lain,” dijelaskan Heralina seraya berharap ke depannya bantuan serupa lebih banyak lagi.

 

Ir Wasista Bambang Utoyo, anggota Komisi VI DPR RI didampingi Ir  Cholil Direktur WBU Solution Centre, Hidayat dari Fraksi Golkar, tokoh masyarakat, serta pelaku industri kecil dan menengah menyaksikan langsung penyerahan bantuan peralatan IKM kepada 13 pelaku usaha kecil dan menengah.

“Tugas kami ini pacak bermanfaat untuk masyarakat banyak. Artinya apa..? apa yang bisa kami berikan untuk pelaku dunia usaha rumahan.  Tahun 1997 ada istilah krismon. Rupanya yang bertahan serta tumbuh berkembang itu bukanlah perusahaan besar melainkan usaha-usaha rumahan,” demikian sambutan Wasista Bambang Utoyo akrab disapa Mas Toni.

Geliat dunia usaha orang-orang rumahan, lanjut Mas Toni, masih terkendala dengan faktor alat-alat penunjang. Sekira dua tahun lalu, Mas Toni melihat langsung bagaimana dahsyatnya keberadaan lini usaha industri kecil dan menengah. Bukan hanya di Palembang namun merambah sampai ke sudut-sudut perdesaan. Drama minimnya modal, terbatasnya bahan baku, hingga sulitnya menembus pasar adalah tantangan yang menjadi buah pikiran bagi sebagian pelaku usaha rumahan.

“Dari situ awalnya saya berpikiran mengapa orang-orang yang memiliki manfaat ini dibiarkan. Pemerintah wajib memerhatikan mereka. Sebab apa? Mereka kan sudah mengalami yang namanya diterjang krisis ekonomi,” Mas Toni menyampaikan.

Janji nunggu kata bertaruh. Sekitar dua tahun lalu, Mas Toni akhirnya berembuk  bersama tim yang dikomandoi Cholil untuk mencarikan solusi terbaik demi keberlangsungan dan kesinambungan sektor pelaku industri kecil dan menengah.

Kata sepakat pun diambil. Mas Toni akhirnya melahirkan sebuah lembaga pemberdayaan masyarakat yang bernama WBU Solution Centre yang berpusat di 5 Ilir Kota Palembang. Tak jauh dari kediaman Toni. Kini, tepat di bawah bangunan WBU SC itu nampak beberapa bangunan kolam bioflog, kandang ayam, tanaman buah naga, dan usaha pembuatan roti. Hebatnya lagi persis bagian kanan ada serupa ruangan seringkali dijadikan untuk aneka pelatihan-pelatihan binaan WBU.

“Usaha budidaya lele, misalnya. Alhamdulillah, kami sudah menyebarkan hampir 100 kolam ke para binaan. Yang membuat hati saya bangga lagi ada anggota komunitas lele kita yang mendapat bantuan dari Kementerian Kelautan senilai Rp 200 juta,” sambung Mas Toni.

Terlahir dari keluarga jenderal yang sederhana rupanya tak memupuskan semangat Mas Toni dalam berkarya dan mengabdi sampai kapanpun. Ini ia buktikan dengan memberdayakaan masyarakat rumahan lewat sektor peternakan ayam kampung berkualitas. Masing-masing kelompok binaan WBU SC diberikan anak ayam berusia 1,5 bulan sebanyak 60 ekor.

“Coba kita hitung..! Satu ayam betina itu sampai 20 telur. Nah, kalau 30 ayam saja bertelur maka ada 600 telur ayam yang siap jual. Anggaplah 100 ditetaskan kembali, maka 500 telur kan bisa dijual guna menambah penghasilan rumah tangga,” Mas Toni menganalisa.

Wujud kepedulian Mas Toni dalam membesarkan usaha si kecil tak hanya sampai di situ. Dia bahkan coba mengembangan industri olahan organik memakai bahan baku lele. Hasilnya..? Ada kemplang lele, bakso lele, abon lele.

Lalu, bagi yang memiliki keinginan mengembangkan usaha perbengkalan, seni tenun songket, dan terali besi, Mas Toni pun telah berupaya sekuat tenaga untuk pengadaan peralatan. Tak kurang dari 20 seat alat tenun songket ia peruntukkan bagi pelaku usaha di kawasan Tuan Kentang dan Keramasan. Juga ada peralatan pembuatan pakan ikan yang selalu dirindukan oleh pelaku usaha rumahan.

“Saya begitu bersyukur sekali. Semenjak WBU SC hadir, keluarlah keinginan-keinginan muncul dari pelaku usaha kecil yang sebagian besar orang-orang rumahan baik yang tinggal di perkotaan maupun yang bermukim di pedesaan,” katanya.

Suara azan Ashar terdengar jelas. Tiba-tiba, Mas Toni dan seluruh undangan terdiam sejenak. Beberapa menit kemudian, Mas Toni berpesan sekecil apapun jelis usaha yang sedang dijalankan asalkan memiliki kemauan tentunya akan ada tangga menuju ke arah perubahan.

“Saya begitu terharu ketika mendengar berita-berita yang ada di lingkungan WBU Solution Centre ini kini terdengar sampai ke negeri Belanda.  Orang Belanda bernama Argon Arsen ternyata mengakui bahwa kita di sini (WBU SC.red) memulai dari sebuah langkah kecil. Untuk melebarkan lembaga ini saja dananya saya gunakan dari uang kantong sendiri dan dari beberapa himpunan orang-orang yang peduli,” dilanjutkan Mas Toni.

Di penghujung orasi, Mas Toni sepertinya juga memiliki keinginan yang jauh berbeda. Apa itu? Ternyata dia ingin tumbuh, maju, dan membesar bersama-sama dengan pelaku industri usaha seperti pelaku usaha rumahan.

“Alhamdulillah, istri saya 30 tahun lamanya merintis usaha roti di rumah. Saya perhatikan ia begitu konsisten saat menekuni usaha. Dia tak mudah menyerah dan tak takut salah. Dulu cuma go kota saja, sekarang Alhamdulillah sudah go Internasional,” tutup Mas Toni. (rinaldi syahril djafar)