PALEMBANG,HS – Provinsi Sumatera Selatan sejak dulu sangat dikenal dengan semangat gotong royongnya, dan saling menghargai satu dengan yang lain sehingga kerukunan selalu tercipta di Sumsel.
Walaupun demikian potensi kekerasan dan terorisme selalu ada di wilayah Sumatera terutama kaum pemuda yang jika timbul sikap menyendiri, tidak mau bergaul dan mereka itu benar sendiri.
“Dan sudah terkenal di Sumsel ini bahwa banyak pendatang terutama dari transmigrasi, beragam budaya dan agamanya tapi bisa bersatu bersama, ini kita kembangkan lagi, kita pelihara lagi terutama dari sekolah-sekoah dasar, SMP, SMA sampai perguruan tinggi sehingga pemuda kita itu paham betul bahwa sebenarnya tanggungjawab Indonesia ini ada dengan mereka,“ kata Inspektur Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Amrizal usai acara Satu Indonesia, yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di The Alts Hotel, Palembang, Kamis (18/7/2019).
Menurutnya, masyarakat harus diberikan pemahaman khususnya para pemuda agar paham menggunakan informasi tehnologi itu, jadi informasi yang diterima jangan langsung diterima mentah-mentah, jangan langsung disampaikan tanpa disaring dari informasi harus di saring dulu baru di sharing, apakah informasi intu bener, baik apakah berguna atau bermanfaat bagi masyarakat.
“Tahun 2014 itu ada anak yang SD dia bisa bikin bom dari Media sosial, belakar dari situ, ini bahanyanya sekarang dari internet mudah sekali mereka dapat berita dan informas yang kita simak dengan baik informasi sangat menyesatkan. Upaya kita, melakukan penndekatan seperti hari ini lomba video pendek kita berikan bagaimana pemuda kota membuat karya seni berupa film yang menggambarkan  mereka bersatu walaupun beda budaya, agama, bahasa dan adat istiadat,” tuturnya
Sementara itu Ketua FKPT Sumsel, Periansyah mengatakan, radikalisme, terorisme itu adalah paham global yang jauh dari kearipan lokal.
“Di Sumsel ini sebenarnya enggak ada tetapi dunia yang sudah mengglobal ini orang bisa tahu dengan menggunakan gadget dan peran guru dan tua penting dalam menangkap pemahaman-pemahaman radikan tersebut, kalau tidak ya kita semua akan kebobolan,” pungkasnya
Dan salah satu langkah yaitu hari ini pihaknya menggelar diskusi film tentang Cinta Indonesia.
“Makanya tema kita satu Indonesia, maknanya yang Bhineka, walaupun berbeda tapi tetap satu, ada pemahaman hari ini kalau perbedaan itu adalah sesuatu hal yang aneh, padahal berbeda itu bukan hal yang aneh, sama seperti berpikir beda tidak aneh karena Tuhan menciptakan kita berbeda-beda tapi bahwa kita harus menyakini Indonesia harus kita rawat, di Sumsel suku banyak, bahasa banyak dan itu kekayaan kita ,” katanya.
Lanjutnya, karenanya pemahaman-pemahaman radikal harus dicegah dengan kearipan lokal.
”BNPT kerjasama dengan FKPT sedang melakukan penelitian tentang tutur lisan yang ada di Susmel disamping kita melakukan penelitian nasional dengan tema Daya Tangkal Masyarakat Terhadap Terorisme ,” tutupnya