PALEMBANG,HS – Kereta Api ringan atau Light Rail Transit (LRT) Sumsel dinilai merugikan. Pasalnya dana yang dikeluarkan mencapai Rp 10 miliar perbulan. Sedangkan pemasukan hanya Rp 1 miliar per bulan.

Hal ini lantas membuat Menteri Perhubungan (Menhub) gerah, hingga akhirnya angkat bicara. 

“Kita nggak usah ngomong soal untung-rugi karena secara umum angkutan ini untuk masyarakat,” kata Menhub RI Budi Karya Sumadi 

Ia juga berbicara soal subsidi, setiap angkutan masal di seluruh dunia mana pun disubsidi, jadi tidak ada istilah merugi.

Contohnya, Singapura yang mengeluarkan jutaan dolar untuk mensubsidi LRT-nya. Begitu juga di Jakarta, subsidi yang dikucurkan hingga Rp 1,2 triliun sehingga masyarakat pun hanya membayar Rp 3 ribu hingga Rp 5 ribu.

Menurutnya, jika mau untung tentunya harus berintegrasi sehingga dengan adanya angkutan ini kota tidak macet dan lebih bergengsi.


Lanjutnya, Selain itu juga meningkatkan nilai tanah, pendapatan daerah, dan ada pendapatan lain yang tersubstitusi sehingga mampu menjadi kota yang baik.

Ia juga mengatakan, subsidi ini dapat saja dihilangkan. Dengan catatan jika telah siap. Sedangkan, di Jakarta meski telah sekian lama tetap disubsidi namun belum mampu. Begitu juga di Singapura.

“Artinya, butuh waktu lama untuk melepas subsidi ini, mengingat ini angkutan masal untuk masyarakat,” tutupnya