PALEMBANG,HS – Pemerintah Provinsi Sumsel telah mencanangkan pertumbuhan hijau sebagai salah satu visi pembangunan. Hal tersebut bisa dicapai jika terjadi kemitraan antara pemerintah, swasta dan masyarakat dalam mendukung keseimbangan aspek produksi dan konservasi.
Koordinator KOLEGA Sumsel, Najib Asmani mengatakan, Sumsel telah berhasil mengundang berbagai lembaga internasional dan donor untuk bersama pemerintah provinsi mengembangkan pendekatan lanskap.
Sumsel merupakan percontohan bagaimana pendekatan lanskap dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip ilmiah. “Sumatera Selatan adalah laboratorium lapangan bagi implementasi pendekatan lanskap di Indonesia,” katanya, disela seminar bertajuk ‘Menerjemahkan Pendekatan Lanskap ke dalam Praktik Pembangunan Hijau’, Selasa (24/7)
Menurutnya, visi lingkungan hidup merupakan agenda jangka panjang yang harus dilakukan secara konsisten, sehingga diperlukan sebuah percontohan di lapangan dalam bentuk pengelolaan lanskap berkelanjutan.
Selain itu, Pemrov Sumsel juga telah berupaya membangun praktik pembangunan hijau, dengan tersusunnya dokumen Green Growth Masterplan 2017-2030, yang juga telah diterjemahkan ke dalam Peraturan Gubernur.
Nirarta Samadhi, Direktur WRI Indonesia mengatakan, sebagai salah satu upaya untuk mengumpulkan berbagai pembelajaran terkait pengelolaan lanskap di Sumsel, Pemrov dan KOLEGA mengumpulkan para pakar lingkungan dalam seminar yang bertajuk ‘Menerjemahkan Pendekatan Lanskap ke dalam Praktik Pembangunan Hijau.
“Seminar Internasional ini merupakan bagian rangkaian acara South Sumatera Landscape Festival 2018, WRI Indonesia, ICRAF, IDH dan KELOLA Sendang-ZSL yang merupakan Mitra Pembangunan KOLEGA Sumsel,” ujarnya
Kemudian, juga seminar internasional ini juga dalam rangka menggagas pentingnya sains untuk mendukung pendekatan lanskap dalam rangka praktik pembangunan hijau, sekaligus menjadi wadah bagi para pakar lingkungan, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, dan pembuat kebijakan untuk membangun kemitraan dalam pengelolaan sumber daya lahan dan lingkungan hidup secara lestari.
Selain itu, pendekatan lanskap yang menitikberatkan pada kolaborasi dan komunikasi yang solid antara berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, pihak swasta, organisasi masyarakat sipil, dan donor, tengah dicobakan di beberapa lanskap di Sumatera Selatan untuk mencapai praktik pembangunan hijau yang baik.
“Kolaborasi kerja keras antar para pihak di Sumatera Selatan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan gambut, seperti restorasi gambut, patut mendapatkan apresiasi dan dukungan lebih. Misalnya, sekarang kita perlu memobilisasi pendanaan untuk mengimplementasikan Rencana Restorasi Ekosistem Gambut dan Rencana Tindakan Tahunan dan pengawasan yang efektif. Pendanaan dan pengawasan terkait restorasi gambut perlu mengacu pada pendekatan lanskap secara terpadu dan inklusif,” katanya.
Terkait implementasi pengelolaan lanskap di lapangan, Deputi Direktur Proyek KELOLA Sendang, David Ardhian mengatakan, proyek KELOLA Sendang adalah bentuk kemitraan pengelolaan lanskap dalam praktik. KELOLA Sendang diharapkan menghasilkan bentuk-bentuk kemitraan aksi dalam pengelolaan lanskap dataran rendah di Sumsel dari kawasan Sembilang sampai dengan Dangku.
Menurutnya, sains merupakan basis utama proyek KELOLA Sendang dalam mengembangan permodelan dalam pengelolaan lanskap di lapangan.
“Sains kita gunakan untuk membangun sistem, kelembagaan dan berbagai bentuk percontohan aksi kemitraan di tingkat tapak. Sebagai contoh sains konservasi dan keanekaragaman hayati, pengelolaan tata air terpadu di kawasan hidrologi gambut, pengelolaan konflik dan penguatan penghidupan masyarakat,” tutupnya