H Alex Noerdin.

H Alex Noerdin.

PALEMBANG, HS– Gubernur Sumsel H Alex Noerdin mengaku tak puas dengan prestasi yang diraih oleh altet Sumsel pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) ke XIX tahun 2016 di Jawa Barat.

Sumsel berada di urutan ke-21 dari 34 provinsi yang mengikuti pesta olahraga terbesar di Indonesia ini. Hal ini sangat jauh dari target kontingen Sumsel, yakni masuk 10 besar. Kontingen Sumsel hanya mampu membawa pulang 31 medali yang terdiri dari 6 emas, 11 perak, dan 14 perunggu.

(Baca: PON Ditutup, Jabar Juara Umum Sumsel Peringkat 21 )

“Jangan tanya saya tentang itu. Saya sedang marah. Peringkat 21 itu serta saya tidak mau menyalahkan siapapun karena ini. Apapun itu, mereka telah berusaha keras. Meski begitu, dengan peringkat 21 itu maka secara otomatis akan ada evaluasi besar-besaran. Dan secepatnya untuk semua atlet, pelatih dan yang terhubung dengan kontingen Sumsel tersebut,” ujar Gubernur Sumsel, H Alex Noerdin di Griya Agung, Sabtu (1/10).

Alex, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumsel mengatakan, pihaknya tetap akan menepati janji dengan memberikan hadiah kepada atlet yang berhasil mendulang medali emas.

“Peraih medali emas tetap akan mendapat apartemen dan uang pembinaan. Karena janji tetap janji,” kata dia

Sementara itu, Asisten III bidang Kesejahteraan Sosial Pemprov Sumsel, Akhmad Najib mengatakan, pihaknya akan segera melakukan evaluasi terkait prestasi yang didapat Sumsel mengingat atlet Sumsel belum bisa memenuhi harapan dan target 10 besar yang ditentukan.

“Meski begitu, bukan maksud untuk mencari kambing hitam. Banyak faktor yang menyebabkan prestasi Sumsel turun. Diantaranya, penyelengaraan banyak mendapat komplain dari kontingen mengenai wasit. Seperti DKI, Sulsel dan beberapa daerah lainnya,” tukasnya

Ia juga menyinggung ambisi tuan rumah untuk menjadi juara umum dengan mengabaikan kepentingan sportifitas, harmonisasi serta persaudaraan.

Kemudian venue pertandingan yang tidak terintegrasi. Ada 15 tempat pertandingan yang menyebar cukup jauh. Kondisi ini membuat atlet sulit untuk melakukan adaptasi dengan waktu yang sedikit.

“Ini juga menjadi bahan pertimbangan kami,” urainya.

“Selain memang, diperlukan evaluasi menyeluruh. Disamping melihat dari berbagai sisi mulai dari atlet, pelatih kontigen hingga official. Pembinaan tidak hanya melihat satu struktur tapi semuannya,” urainya.

Disinggung terkait minimnya anggaran untuk melakukan training center, Najib mengatakan, training center memang penting sebab atlet harus melakukan uji tanding sebelum even besar guna mengetahui kemampuan mereka.

“Meski begitu, TC tidak menjadi alasan dan barometer. Pasalnya, atlet Sumsel masih lebih beruntung. Akomodasi dan pemusatan latihan dilakukan hingga penginapan. Lihat daerah lain. Bahkan ada atlet yang tidak bisa pulang karena tidak ada ongkos,” katanya. (MDN)