Para peserta Sosialisasi P 4 foto bersama dengan Wasita Bambang Utoyo dari Anggota DPR-MPR RI dan Sumin Kepala SMA Negeri 5 Palembang

PALEMBANG, HS – Gonjang-ganjing tatanan nadi kehidupan di tengah masyarakat kini mengoyak sendi-sendi pilar negara Indonesia. Dari berbagai aspek, berat (belum) sama dijinjing. Pun perjuangan Wasista Bambang Utoyo—anggota Dewan Perwakilan Rakyat –Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia periode 2014-2019, itu tak akan pernah habis-habisnya.

Wasista Bambang Utoyo (WBU) bagaikan membangkitkan “jiwa yang nampak”, lebih dari simpati atau daripada empati. Pada usinya berkepala enam, Wasista tiada henti mengabdikan dirinya sampai dia ‘tutup mata’.

“Kita (rakyat-red), sudah kehilangan arah. Anak-anak dan generasi muda sekarang tak banyak mengenal apa itu 4 pilar MPR-RI. Bila mana satu pilar roboh, maka robohlah negara Indonesia yang sama-sama kita cintai. Itu yang membuat saya tergugah. Anda silakan saksikan, situasi negara kita sungguh memprihatinkan. Harga cabai melonjak dratis sedangkan harga beli rakyat kian tak menentu. Apakah kita hanya berdiam diri…?,” tanya Wasista di depan anggota Organisasi Intra Siswa Sekolah Menangah Atas (SMA) Negeri 5 Palembang, Jumat 18 Februari 2017.

Wasista Bambang Utoyo berpesan agar generasi terpelajar tak kehilangan arah

Kecil dan besar dari keluarga terhormat, benih-benih jiwa yang merakyat mengalir kuat dalam diri Wasista Bambang Utoyo. Karena lahir dari keluarga yang terdidik, Wasista pun gampang bergaul dengan banyak kawan maupun sahabat.

Ada satu hal yang membuat dirinya merasa terpanggil ‘turun gunung’ merangkul kalangan semua lapisan generasi muda adalah karena kemampuan rakyat dalam menerima arus dan informasi semakin tak terbendung.

“Dulu ada yang namanya pelajaran P4. Sekarang itu ditiadakan. Jujur saja, banyak kebijakan yang baik-baik di zaman Pak Soeharto, mengapa harus dihilangkan. Akibatnya apa? Negara kita sepertinya  mulai kehilangan jati diri,” Wasista coba membalik kisah.

Beginilah suasana di Aula SMK Negeri 5 Palembang saat dengar pendapat dengan Wasita Bambang Utoyo

Wasista yang kini masih Ketua Umum Kerukunan Keluarga Palembang sejak 2012 hingga 2017, itu  tampaknya maklum. Tantangan yang terberat dirasakan oleh kalangan generasi muda dan terpelajar ketika mereka dihadapkan dengan arus informasi yang begitu bias.

“Contohnya, narkotika dan obat-obatan terlarang. Ini bukan tanpa sebab narkoba merajalela. Jelas, itu dikarenakan kita telah memposisikan anak-anak kita untuk bersenang-senang, berhuru-hara, dan dilenakan dengan teknologi yang ada,” kata lulusan terbaik Sarjana Teknik Fisika Instititut Teknologi Bandung Tahun 1974.

Darah kepiawaian memimpin pun mengalir deras dalam diri Wasista. Ini dibuktikannya  sewaktu bersekolah. Sekira tahun 1986 hingga 2016, Wasista dipercaya menjadi Ketua organisasi FKPPI Sumatera Selatan. Dari 2000 sampai sekarang, ia pun masih dipercaya Ketua Alumni ITB wilayah Sumatera Selatan.

“Kalau di sekolah, saya nakal Nauzubillah, tapi dalam soal belajar Alhamdulillah saya bersunguh-sungguh. Tidak ada satu orang pun yang berhasil tanpa adanya proses,” kata Wasista penuh penghayatan.

Belasan tahun orang mengenal Wasista sebagai politikus yang multitalenta. Keseharian lelaki bersahaja ini tampak dingin dan selalu murah senyum. Sebuah ungkapan pun meluncur dari mulutnya.

“Hobi saya itu, membaca, memancing, dan menembak. Dengan membaca, kita tahu akar persoalan tentang dunia. Untuk melatih kesabaran dan keimanan di dalam diri, saya selalu luangkan waktu untuk memancing.  Begitu juga dengan menembak. Sasaran mana yang hendak kita bidik, artinya hidup haruslah punya cita-cita,” sambung Ketua Bidang Target Perbakin Pusat Tahun 1992 sampai 1997.

Para anggota OSIS SMA Negeri 5 Palembang begitu serius mendengarkan paparan Wasista Bambang Utoyo

Wasista lahir di Palembang 16 Mei 1955 ini memang tak seindah flamboyan. Kisah cintanya pada dunia organisasi pun membekas di hati rakyat.

Dengan senyum simpul, Wasista menyampaikan sudah selaiknyalah masyarakat di kota Palembang bergandengan tangan menyelamatkan generasi muda dari pengaruh negatif.

“Untuk apa anak-anak kita bersekolah…? Apalah gunanya orang tua bersusah payah menyekolahkan anaknya…? Jawabannya hanya satu, tugas anak-anak kita adalah belajar dan belajarlah. Pastinya kita berkeinginan mereka (anak-anak) bisa mengubah pola pikir atau cara pandang soal masa depan,”  disampaikannya.

Jelang awal 1960, tekad dan arah hidup Wasista tidak berputar di angka 180 derajat. Cita-citanya menjadi seorang politikus andal dan besar, masih tetap membekas dalam ingatannya. Ia habis-habisan membesarkan jiwa dan raganya hingga ke titik nadir.

Selulus kuliah di Institut Teknologi Bandung, Wasista kemudian banyak terlibat langsung dalam berbagai pergulatan organisasi di Sumatera Selatan. Ia tak surut selangkah pun mengolah seni berorganisasi hingga yang paling urban.

Kisah Wasista dalam mengibarkan bendera pengabdian agaknya sedikit tertatih-tatih. Sungguh pun begitu, masyarakat di kota ini patut bersyukur mempunyai orang seperti dia.

Meski perjuangan sang maestro politikus tiada pernah habisnya, namun harus diakui Wasita Bambang Utoyo adalah peletak pondasi seni berorganisasi.

Tak Ada Pengabdian yang Mendua

Sumin Eksan, Kepala SMA Negeri 5 Palembang menyampaikan, pembangunan sarana dan prasarana di SMA Negeri 5 Palembang tak luput dari kerjasama berbagai pihak.

“Kita bangga dengan kedatangan Pak Wasista ke sini. Banyak sekali lulusan dan alumni terbaik sekolah ini yang sukses. Salahsatunya Pak Wasista Bambang Utoyo,” tutur Sumin.

Lanjutnya, guna menghadapi UN Berbasis Komputer atau UNBK, SMA Negeri 5 Palembang masih terkendala dengan pasokan listrik.

“Tolong Bapak (Wasista), listrik menjadi masalah di sekolah kita. Kita masih kekurangan daya 43 ribu watt untuk bisa UNBK. Itu saja, Pak,” cetusnya.

Kian beruntunnya ancaman baik internal maupun eksternal bisa jadi disebabkan rakyat telah meninggalkan empat pilar kehidupan berbangsa.

“Kebudayaan bangsa adalah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budinya rakyat Indonesia seluruhnya. Makanya, kita sangat memerlukan ke-empat pilar bernegara sampai kapanpun,” demikian kata Dr Ir Nur Ahmadi MS, pemateri Sosialisasi 4 Pilar MPR-RI  yang dihadiri anggota OSIS, pengurus Posdaya dan Bank Sampah Kebumen Gemilang Sejahtera, perwakilan Komunitas Ayam Hias, Komunitas Nibung Community, Forum Komunitas Hijau Kota Palembang, dan alumni SMA Negeri 5 Palembang.

Ir H Cholil Msi PhR moderator acara Sosialisasi 4 Pilar MPR-RI selanjutnya mempersilakan Nur Ahmadi menjelaskan tentang kebudayaan lama dan asli yang tertuang sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah Indonesia.

Menurut Nur, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Tentunya usaha kebudayaan harus pula menuju arah kemajuan adab, budaya, persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing.

Wasista Bambang Utoyo terlahir dari keluarga yang terdidik. Dari situlah, ia sangat konsen terhadap dunia pendidikan

“Undang-undang 1945 adalah prinsip dalam hidup kita. Semoga dengan berpegang teguh pada konsep dan prinsip di dalam Bhinneka Tunggal Ika, NKRI makin kokoh dan kian berkibar,” dijelaskan Nur.

Kata Nur, Bhinneka Tunggal Ika memegang peran penting bagi negara dan bangsa, bersebab itu maka perlu makna Bhinneka Tunggal Ika itu benar-benar menjadi tiang penyangga yang kokoh dalam kehidupan bernegara.

“Berbeda-beda itu satu, tak ada pengabdian yang mendua,” Nur bersemboyan.

Tepat pukul 11.00 WIB, acara dilanjutkan dengan pemberian bantuan secara simbolis dari Anggota DPR-MPRI RI Wasista Bambang Utoyo kepada Farezka Ketua OSIS SMA Negeri 5 Palembang yang disaksikan Sumin Kepala SMAN 5 Palembang.  Acara pun dilanjutkan dengan foto bersama. (REI)