PALEMBANG,HS – Provinsi Sumatera Selatan salah satu daerah yang masuk dalam jajaran lima provinsi yang mengajukan status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Hal itu menyikapi perubahan iklim dan kekeringan yang terjadi pada awal musim kemarau ini.
Kelima Provinsi yaitu Provinsi Sumsel, Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan, pencegahan karhutla akan diperketat. Atas dasar itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menurunkan tim gabungan untuk menyikapi status tersebut.
Kepala BNPB, Letjen Doni Monardo mengatakan, persiapan pencegahan Karhutla menjadi prioritas BNPB dan BPBD, beserta segala unsur stakeholder di Sumsel. Menurutnya, saat ini kebakaran hutan setiap tahunnya di Sumsel mengalami penurunan jumlah titik api sejak karhutla 2015 hingga 2018.
“Untuk total karhutla sejak 2015 mencapai 27.000 titik api. Tahun 2018 turun menjadi 2.000an titik api, hal itu karena kemarin kita menghadapi even Internasional Asian Games,” kata Doni, Senin (9/7/2019).
Ia juga mengatakan,Untuk tahun ini, BMKG memprediksi kemarau akan terjadi lebih panjang akibat faktor cuaca El Nino di wilayah Indonesia. Pihak BNPB bersama stakeholder dibeberapa daerah bahkan sudah mempersiapkan karhutla sedini mungkin.
“Juli ini sudah masuk kemarau, puncaknya pada Agustus, September, hingga Oktober. Memang BMKG memprediksi jika El Nino akan lebih panjang, namun tidak seperti tahun 2015. Oleh karenanya, lebih awal kita lakukan pencegahan. Ada TNI, Polri, Budayawan, penyuluh pertanian, penyuluh perikanan dan apa yang dibutuhkan setiap daerah menjadi kombinasi kita. Kita akan berikan penyuluhan kepada masyarakat, untuk melakukan pencegahan,” jelasnya
Pendekatan yang diambil BNPB, terang Doni, yakni dengan mendekati masyarakat secara langsung. Memberikan arahan untuk tidak membakar hutan di musim kemarau dengan cara membuka lahan, atau sebab-sebab lainnya yang saat menyebabkan kebakaran.
“Pendekatan kesejahteraan menjadi tujuan utama kita, berbagai edukasi kepada masyarakat akan diberikan. Bahkan kita akan menurunkan 1.250 personel untuk turun langsung ke masyarakat, bermukim di tengah masyarakat. Mereka akan melakukan program kepentingan ekonomi dengan fungsi ekologis kepada masyarakat,” terangnya.
Faktor alam penyebab terjadinya karhutla hanya berlaku 1 persen, sedangkan faktor manusia menyentuh angka 99 persen. Itu berdasarkan data karhutla yang dimiliki BNPB dari KLHK.
“Penyebab utama adalah manusia. 99 persen kebakaran hutan terjadi karena faktor manusianya, 1 persen alam. Faktor manusia itu kebanyakan disengaja, puntung rokok, membakar sampah lupa dipadamkan. Membakar ladang karena tradisi agar lebih cepat membersihkan lahan. Lalu membakar karena dibayar atau disuruh lantas dibayar,” tutupnya