N219 Siap Mengudara

BANDUNG, HALUAN SUMATERA – Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (DI), Budi Santoso mengungkapkan rencana penerbangan perdana (first flight) pesawat produksi terbarunya, N219.

Pesawat yang dikembangkan bersama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) tersebut akan mengudara tak lama lagi, yakni pada November 2016 setelah mundur dari rencana sebelumnya, yakni Mei 2016.

Budi mengatakan tes penerbangan perdana pesawat itu baru bisa dilakukan setelah tes struktur selesai. Tes tersebut dijadwalkan rampung November ini. “Sekarang sedang menguji strukturnya, tes ini agak memerlukan waktu, juga untuk mencocokkan perhitungan kita, ujar Budi, Kamis (18/8) di Bandung.

Menurut Budi, proses pengujian itu dilakukan bersamaan dengan proses sertifikasi seluruh komponen pesawat. “Semua komponen itu harus diketahui untuk proses sertifikasinya. Beda dengan bikin mobil dulu, terus sertifikasi. Ini pasang baut, bautnya juga harus disertifikasi. Dan itu memang administrasinya panjang. Tapi harus dikerjakan,” kata dia.

Budi mengakui, jadwal terbang perdana molor karena proses sertifikasi itu. “Sertifikasinya ini kita punya banyak problem di administrasi. Barang tidak bisa dipasang sebelum administrasinya beres,” kata dia.

Menurut Budi, proses kontrak produksi pesawat ini pun akan ditandatangani setelah pesawat itu dinyatakan laik terbang. Dari letter of intent yang sudah diteken sejumlah maskapai yang berminat membeli pesawat N219 itu, proses produksi untuk memenuhi permintaan memakan waktu tiga tahun.

Selain pesawat N219 itu, PT DI juga tengah mempersiapkan pengiriman karyawannya ke Korea Selatan untuk memulai pengerjaan desain pesawat tempur produksi bersama dengan Indonesia yang memiki kode KFX.

Budi mengatakan, pesawat tempur KFX dijadwalkan desainnya akan selesai tahun 2018. “Prototipe tahun 2019, baru setelah itu mulai tes-tes dan operasionalnya diharapkan 2024,” kata dia.

Sebelumnya, pada Januari 2016 Indonesia dan Korea Selatan menandatangani perjanjian senilai US$1,3 miliar untuk pengembangan jet tempur baru berkemampuan siluman (stealth).

Berdasarkan perjanjian yang ditandatangani dengan Korea Aerospace Industries (KAI) itu, Kementerian Pertahanan Indonesia akan menanamkan investasi sekitar 1,6 triliun won (Rp13 triliun) dalam program Korea – Indonesia Fighter Experimental (KF-X/IF-X).

Kembali ke N219, secara terpisah, Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin mengatakan uji terbang pertama pesawat perintis N219 buatan bersama lembaganya dengan PT DI dipastikan mundur dari jadwal semula yang dijadwalkan Mei ini.

Thomas mengatakan, kendati jadwal uji terbang pertama molor, target produksi tetap tidak berubah. “Tahun 2017 harus sudah mulai produksi N219,” kata dia.

Pesawat N219 dirancang mengungguli pesawat pesaing terdekatnya, yakni Twin Otter, yang dominan digunakan melayani penerbangan perintis di Indonesia. Salah satu kelebihan pesawat N219 itu dirancang mampu mengangkat beban kargo lebih banyak dari pesaingnya.

Twin Otter misalnya maksimal punya kemampuan angkut kargo 1.800 kilogram, tapi N219 dirancang mampu mengangkut beban kargo hingga 2.300 kilogram. ‘

Kelebihan lainnya, kecepatan maksimal pesawat N219 bisa menembus 210 knott sementara Twin Otter hanya 170 knott. N219 juga dirancang tetap bisa take off dan landing tanpa mengurangi muatannya pada landasan dengan ketinggian 5 ribu feet, lokasi bandara tertinggi di Indonesia.

Pesawat N219 dirancang dapat mengangkut 19 penumpang dalam dua baris. Bagian kanan 14 tempat duduk (2×7) dan bagian kiri 5 tempat duduk (1×5). Tinggi kabin 1,7 meter, lebih lega dibanding Twin Otter yang tinggi kabin dalamnya hanya 1,5 meter.

Pesawat itu juga dirancang mampu terbang di landasan pendek 500 meter. (hs)