Unjuk rasa yang dilakukan ratusan supir angkutan batubara menyebabkan antrian mobil angkutan batubara mengular sekitar 2 kilometer

Unjuk rasa yang dilakukan ratusan menyebabkan antrian mobil angkutan batubara mengular sekitar 2 kilometer

PALI, HS – Kerap menjadi korban dari aksi preman jalanan ketika membawa batubara membuat ratusan supir angkutan Batu Bara (Angbara) melakukan aksi unjuk rasa dengan memarkirkan angkutannya di sepanjang jalan PT Energate Prima Indonesia (EPI) tepatnya di Desa Prambatan, Kecamatan Abab, Kabupaten PALI, Kamis (29/9).

Akibat hal itu menyebabkan antrian mobil angkutan batubara mengular sekitar 2 kilometer di KM 27 wilayah Desa Betung Selatan, Kecamatan Abab, Kabupaten PALI.

Bambang, Humas PT EPI mengatakan bahwa aksi unjuk rasa yang dilakukan ratusan supir tidak mengganggu operasional perusahaan batubara tersebut.

“Mereka hanya berorasi sebentar, mungkin hanya melampiaskan unek-uneknya saja. Kalau pihak perusahaan tidak ikut campur masalah itu, karena berunjukrasa adalah hak semua warga Negara.Tapi operasional kita tidak terganggu tetap normal sebagaimana biasanya,” katanya kepada awak media, Jumat (30/9).

Aksi unjuk rasa yang dilakukan supir angbara itu juga merupakan bentuk protes dan meminta keadilan kepada aparat penegak hukum. Karena mereka selalu dihadapkan dengan para oknum yang melakukan pungutan liar (pungli) serta selalu dihambat oleh aksi-aksi unjuk rasa dengan mengatasnamakan kepentingan masyarakat yang membuat aktifitas mereka terhambat.

“Kami ini hanya cari makan, jangan dihambat dan jangan dijadikan objek pemerasan di jalanan. Uang jalan kami pas-pasan, tapi kami dipaksa memberikan setoran kepada oknum setiap harinya, bahkan kami sering jadi bulan-bulanan kekerasan oleh orang yang tidak bertanggungjawab apabila kami menolak memberikan sejumlah uang yang dimintanya,” ungkap Hendra salah satu supir angkutan batubara.

Ia juga meminta aparat hukum agar bertindak tegas dan melindungi setiap supir serta mengusut tuntas apabila ada supir angkutan batubara menjadi korban kekerasan.

“Terkadang tidak sedikit mobil kami yang dirusak, serta sudah banyak supir yang luka-luka akibat jadi korban preman jalanan. Kami minta usut tuntas dan lindungi kami, karena kami juga Warga Negara Indonesia,” tukasnya.

Hal senada disampaikan Jeki, dia berharap kepada Pemerintah Kabupaten Lahat, Muaraenim dan Kabupaten PALI ataupun pemerintah provinsi, apabila angkutan batubara tidak diperbolehkan lagi melalui jalan umum, para supir meminta diberikan pekerjaan lain, agar periuk nasi mereka tidak berhenti.

“Kalau armada batubara distop, berarti kami berhenti bekerja.Tapi kami tidak akan diam, karena ini menyangkut perut, anak istri kami di rumah juga butuh makan, kami akan berdemo kembali ke pemerintah dengan mengerahkan seluruh supir angkutan batubara. Apabila pemerintah melarang angkutan batubara melintas di jalan umum, kami minta carikan pekerjaan, agar kami tetap bisa makan,” tandasnya. (MAN)