SEKAYU,HS – Keberadaan center excellent di RSUD Sekayu membawa manfaat bagi masyarakat di luar Muba. Pasien yang tinggal di PALI, Mura, Kota Lubuklinggau dan RSUD Muratara akan lebih mudah, cepat dan dekat merujuk pasien ke RSUD Sekayu.

Keberadaan dan kemampuan melakukan operasi laparoscopy ini di RSUD Sekayu dinilai sangat menguntungkan pasien di Sumsel. “Semua kasus yang selama ini dirujuk ya diambil alih untuk kasus batu empedu, usus buntu dan usus turun. Bahkan bila ada orang Muba yang obesitas, kita bisa operasi pengecilan lambungnya. Ini semua bisa dilakukan di RSUD Sekayu,” ungkap Direktur RSUD Sekayu, dr Makson P Purba MARS.

Pantauan di RSUD Sekayu hingga Minggu (27/1/2019) sudah dilakukan tindakan operasi 6 pasien dari 14 pasien bedah onkologi. Sisanya masih mengurus administrasi. Diantara 6 pasien yang sudah operasi, 5 pasien laparoscopy dengan bedah digestif.
Pelayanan unggulan ini dinilai mampu mengatasi operasi pasien penderita hernia, batu empedu, usus buntu hingga obesitas. Teknik yang digunakan pun tergolong canggih. Tak lagi lewat teknik bedah konvensional melainkan memakai laparoscopy.

Direktur RSUD Sekayu, dr Makson P Purba, MARS mengatakan kini pihaknya mengalami peningkatan penanganan pasien penderita penyakit dibatas. Dengan kata lain, kata dia, operasi yang selama ini harus dilakukan di rumah sakit di Palembang sudah bisa dikerjakan di Sekayu. Alhasil, jumlah pasien yang melakukan operasi di Palembang turun drastis dan beralih ke RSUD Sekayu.

“Sabtu lalu kita lakukan dua operasi teknik laparoscopy untuk pasien penderita hernia dan pengangkatan batu empedu. Peralatan yang kita miliki sudah representatif mulai dari kamar operasi, mesin anestesi yang update, alat laparoscopy terbaru, alat endoscopy , bronchoscopy serta alat faekoemulsifikasi semua ada. Ini semua mendukung RSUD Sekayu menjadi center of excellent Minimal Invasif Surgery,” terang Makson, Minggu (27/1/2019).

Makson menambahkan dengan teknik minimal invasif surgery mutu pelayanan dan hasil yang di dapatkan akan lebih baik. Pasien jaman sekarang ingin melakukan operasi dengan hasil maksimal dan risiko minimal baik itu menyangkut teknik operasi dan hasilnya. Lewat laparoscopy bekas luka operasi sangat minimal dan kecil dari sisi bentuk.

Sejak tahun 2018, RSUD Sekayu sudah rutin melakukan tindakan-tindakan laparoscopy untuk appendiktomi yaitu operasi usus buntu, tindakan cholilektomi untuk batu empedu serta herniotomi operasi usus turun.

“Beruntung, kini rumah sakit ughang kitek ini sudah punya sumber daya manusia mumpuni. Setidaknya ada empat dokter spesialis bedah yang sudah bersertifikasi. ‘Nah untuk hasil maksimal kita lakukansupervisi dokter sub spesialis bedah digestif yang dikontrak part timer ke RSUD Sekayu,” tutur dia.

Rutinitas bedah dengan supervisi mampu menambah kepastian tindakan. Tak mau terus bergantung maka 4 dokter spesialis bedah RSUD Sekayu saat ini sedang disiapkan untuk meningkatkan kapasitas mereka dengan mengikuti pelatihan pelatihan laparoscopy dan endoscopy di center center pelatihan di jakarta.

Bagaimana dengan layanan bagi warga tak mampu? Pemkab Muba menjamin warganya yang membutuhkan. Menurut Plt Kadinkes Muba, dr Azmi saat ini Muba sudah mengalokasikan anggaran untuk melayani kebutuhan kesehatan masyarakat. “Melalui KTP dan KK warga Muba bisa dilayani. Petugas akan mendata dan mencocokkan. Kalau di data sudah masuk tinggal lakukan tindakan. Begitupun jika setelah dicocokkan datanya ternyata yang bersangkutan belum tercatat sebagai peserta BPJS langsung saja dimasukkan sebagai peserta dan dilayani. Jika ada kendala di lapangan kami siap menjelaskan dan memecahkan masalahnya,” beber Azmi.

Di RSUD Sekayu saat ini semua pasien non BPJS bisa dilayani walaupun disubsidi oleh RSUD Sekayu dalam hal BHP ( bahan habis pakai ). Untuk saat ini free bila menggunakan BPJS , tetapi seiring banyalnya kasus akan di lakukan iur biaya seperti di Palembang.

“Di Palembang peserta BPJS bila menggunakan teknik ini terkena iuran biaya Rp8-15 juta,” jelas dia.

Kebutuhan masyarakat Muba untuk tindakan laparoscopy ini cukup tinggi dimana angka rujukan ke Palembang sudah jauh menurun. Sebelum ada center excellent kasus rujukan ke Palembang cukup tinggi dan sekarang banyak dilakukan di Sekayu.