Gas tabung 3 kilogram mulai langka di Muaraenim.

Gas tabung 3 kilogram mulai langka di Muaraenim.

MUARAENIM, HS – Sejak satu bulan terakhir warga Muaraenim mengeluhkan susahnya mendapatkan gas elpiji ukuran 3 kilogram (kg). Padahal semenjak pemerintah melakukan konversi minyak tanah ke gas, hampir 95 persen masyarakat di daerah ini menggunakan gas bersubsidi elpiji 3 kg.

Akibat kelangkaan ini warga merasa kesulitan untuk melakukan aktivitas memasak, sementara di tingkat pengecer yakni warung-warung yang biasanya menjual LPG 3kg, semenjak sebulan terakhir sering mengalami kekosongan.

Kalaupun ada, harganya jauh lebih tinggi dari harga semula. Dari Rp20,000 hingga Rp25.000. Hasil pantaun haluansumatera.com, Senin (14/11), semenjak hilangnya peredaran gas elpiji 3kg membuat sebagian warga memasak menggunakan kayu bakar.

Salah seorang ibu rumah tangga di Muaraenim, Ely, menyampaikan keluhannya terkait kelanggaan gas 3kg ini. “Payah nian sekarang cubo pecak dulu, masak menggunakan minyak tanah idak mutus-mutus jugo di warung mudah didapat,” ujarnya.

Sementara Akhmad, salah satu petugas pangkalan elpiji 3kg di Desa Lingga yang berhasil dijumpai membenarkan akan kelangkaan elpiji 3 kg.

“Untuk di Desa Lingga kami hanya dijatahi satu truk dalam satu minggu yang jumlahnya berkisar 500 lebih tabung jumlah ini tentu tidak akan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat pengguna elpiji,” ujarnya.

Akhmad menambahkan, saat ini pangkalannya terpaksa membatasi permintaan para pengecer atau pelanggan. Pihaknya berharap agar beberapa hari ke depan suplai dari agen dapat dilakukan seperti biasa sehingga tidak ada lagi kelangkaan LPG yang pada akhirnya meningkatkan harga jual di luar.

“Padahal harga eceran tertinggi sudah ditetapkan,” jelasnya. (EDW)