Foto (Ist)

PALEMBANG,HS – Tepat hari ini 9 Desember 2018, Tim kebanggaan masrakat Sumsel laskar wong Kito harus puas turun kasta ke liga 2, saat dikalahkan arema skor 2-1 Dilaga terakhir liga 1 Indonesia.
Klub yang sangat fenomenal harus turun kasta di musim depan. Kenyataan pahit ini tentu menimbulkan pertanyaan dari khalayak ramai, salah siapa SFC begini?.
Sejak di take over dari Persijatim medio 2004 klub bermarkas di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring itu menjelma menjadi klub raksasa yang sangat disegani. Padahal pada tahun-tahun pertamanya SFC juga sempat nyaris degradasi namun berhasil selamat. Tahun 2006 merupakan awal dari melejitnya prestasi Sriwijaya FC.
Manajemen klub kala itu merekrut pelatih Rahmad Darmawan dan beberapa pemain top berhasil didatangkan sebut saja, Anoure Obiora, Zah Rahan Krangar,  Keith Kayamba Gumbs, Christian Lenglolo dan Carlos Renato Elyas. Selain itu legenda timnas Charis Yulianto, Firmansyah, Isnan Ali dan Ferry Rutinsulu juga pernah berseragam SFC.
Singkat cerita SFC berhasil menorehkan kampiun Liga Djarum tahun 2007 dan juga berhasil mengawinkan gelar setelah berhasil meraih kemenangan di piala Liga Copa Dji Sam Soe ditahun yang sama. Bahkan SFC menjadi satu satunya tim yang mampu menjuarai Copa Djie Sam Soe selama tiga tahun berturut, 2007, 2008 dan 2009.
Pasang surut prestasi sampai polemik kompetisi hingga dualisme induk organisasi dimasa itu sudah dilalui dengan manis. Namun predikat sebagai tim juara tidak pernah hilang meski mengalami penurunan. Bahkan SFC mampu menjadi juara di tahun 2012 ketika kompetisi masih bernama Indonesia Super League (ISL).
Sebelum terdegradasi diawal musim SFC terbilang jorjoran belanja pemain. Bahkan pelatih sekaliber Rahmad Darmawan yang pernah membawa SFC gelar juara kembali dipanggil manajemen dengan kontrak yang besar. Pemain bintan juga berhasil didatangkan demo mengembalikan thropy juara yang sudah lama tak singgah ke bumi sriwijaya.
Namun tidak sedikit pihak yang bergumam jika belanja pemain SFC punya muatan politis karena Presiden Klub SFC Dodi Reza Alex bertarung di Pilkada Gubernur Sumsel belum lama ini. Puncaknya menjelang separuh musim SFC mulai terguncang masalah penunggakan gaji pemain. Polemik terus bergulir hingga jajaran pelatih dan separuh pemain hengkang ke klub lain.
Dampaknya jelas, performa tim yang awalnya berada di the big four klasemen menurun hingga kebawah klasemen sampai degradasi tak terhindar lagi.
“Kalah menang itu biasa. Liga kan masih tetap berjalan. Oleh sebab itu kami manajemen masih bersemangat. Kami juga berharap semua juga terus mendukung. Semua telah bekerja semaksimal mungkin sejak paruh musim, pemain, pelatih staf, hanya memang hasil tidak sesuai yang diharapkan. Kita akan segera berbenah, mengontrak pelatih dan mencari pemain. 2020 kita akan kembali ke liga 1,” kata Direktur Utama PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM) H Muddai Madang, Minggu (9/12/2018).
Menurut Muddai, dirinya adalah pihak yang paling bertanggung jawab setelah tim kesayangan masyarakat Sumsel ini harus turun kasta.
“Selaku Dirut PT SOM sekaligus sebagai pemilik saham mayoritas PT SOM, saya adalah orang yang paling bertanggung jawab atas PT SOM dan paling berkepentingan dalam perjalanan Sriwijaya FC di kompetisi Liga 1. Faktanya, Sriwijaya FC harus terdegradasi ke Liga 2 setelah kalah 2-1 atas tuan rumah Arema FC,” pungkasnya
“Kami jelas kecewa. Kami jelas bersedih hati. Apalagi kami sudah mengerahkan pikiran dan mengeluarkan biaya untuk menjaga Sriwijaya  FC di Liga 1. Atas nama Sriwijaya FC, saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada mayarakat Sumatera Selatan, khususnya pecinta Sriwijaya FC yang selama ini memberikan dukungan kepada Sriwijaya FC,” tambahnya