PALEMBANG,HS – Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) merupakan provinsi yang tergolong rawan bencana. Bahkan, tercatat selama tahun 2017 bencana alam yang terjadi di Sumsel menelan korban sebanyak 19 jiwa.

Pelaksana tugas (Plt) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Iriansyah mengatakan 19 jiwa yang meninggal dunia ini tercatat sejak 1 Januari sampai dengan 30 November. Dimana diantaranya satu keluarga yang terdiri enam orang tertimpa longsor di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan dan beberapa orang lainnya meninggal akibat kecelakaan kapal dan juga terbakar akibat kebakaran yang menimpa rumahnya.

Di tahun 2017 ini pihaknya mencatat ada 143 bencana terjadi di Sumsel, dimana bencana ini seperti kebakaran, banjir, puting beliung, longsor dan lain sebagainya.

“Angka ini baru sementara mengingat ini masih bulan November,” katanya minggu (3/12/2017).

Ia mengaku jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun 2016 lalu dimana bencana yang terjadi sebanyak 195 kali dimana rinciannya 70 kali bencana banjir, 66 kali bencana kebakaran, 19 kali bencana puting beliung, enam kali banjir bandang, 31 kali longsor dan tiga kali kecelakaan kapal.

Bencana yang terjadi di tahun 2016 ini berakibat pada sawah rusak 605 hektar,
kebun terendam 1991,5 hektar, korban mendertita 50.230 Kepala Keluarga (KK) atau 157.831 jiwa, korban luka 13 orang, mengungsi 874 KK.

“Untuk korban yang meninggal juga mengalami penurunan yakni sebanyak 12 jiwa,” terangnya.

Sedangkan, untuk tahun 2015 bencana yang terjadi di Sumsel yakni sebanyak 146 bencana, dimana rinciannya yakni 24 kali banjir, 91 kali kebakaran, tujuh kali puting beliung, 19 kali tanah longsor,  dua kali banjir bandang, dan tiga kali kecelakaan kapal. Kerugian yang dialami dari bencana tahun 2015 yakni sawah terendam seluas 1862,6 hektar,  korban menderita 4557 KK atau 8448 jiwa dan korban meninggal sebanyak 12 jiwa.

“Bencana alam ini tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi karena itu kami selalu berupaya untuk meminimalisir banyaknya korban,” terangnya.

Saat ini upaya yang dilakukan untuk meminimalisir banyaknya korban yakni memberikan sosialisasi kepada masyarakat yang dinilai berada di lokasi rawan. Selain itu, memberikan pelatihan penanggulangan bencana,  penyiapan logistik dan peralatan.

Pihaknya juga telah memetakan wilayah yang dinilai rawan terjadinya bencana alam seperto longsor dimana wilayah tersebut yakni Pagaralam, Lahat, Muara Enim dan Oku Selatan mengingat daerah tersebut perbukitan. Sedangkan, wilayah yang rawan banjir yakni dataran rendah seperti Muba, OKI, dan Banyuasin.

“Untuk dana nantinya akan diusulkan dahulu mengingat harus sesuai kebutuhan ril. Dimana dana ini melalui dana bantuan sosial untuk Anggaran Pendapatan Belanda Daerah (APBD) dan dana siap pakai untuk APBN,” tutupnnya (MDN)