• WBU Sosiliasikan Empat Pilar Kebangsaan di Bumi Banyuasin

BANYUASIN, HS – Politikus Wasista Bambang Utoyo turun gurung demi mensosialisasikan empat pilar kebangsaan di Bumi Banyusin. Langkah penyelamatan sekaligus cermin kekhatiran.

Rasa hormat kepada para masyarakat tani, menurut Wasista Bambang Utoyo adalah semacam bentuk rasa terima kasihnya teruntuk negeri ini. Beriring dengan itu, ia pun merasa perlu menjaga keutuhan empat pilar kebangsaan dan warisan keutuhan bernegara wajib pula diselamatkan hingga ke penjuru desa.

Wasista Bambang Utoyo duduk tak sendirian. Di depannya ada beberapa tokoh masyarakat dan staf ahli Ir Cholil yang selalu setia mendampingi ke mana dia bersosialisasi. Kala berada di Kelurahan Air Batu, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, nafas lelaki akrab disapa WBU, ini agak tersengal, tetapi dia coba terus berbicara membahas pelbagai tema kebangsaan dari yang sifatnya keseharian hingga kerakyatan.

Dahulu penduduk yang bermukim di pedesaan tak punya banyak pilihan selain merantau jika ingin hidup lebih baik lantaran kampung halaman mereka terbilang tandus dan gersang.

“Pola pikir masyarakat perantau itu kan cari makan. Jika mau bertahan hidup, ada yang rela keluar dari daerahnya,” WBU coba membalik kisah.

Fakta seakan berbicara. Banyak di antara masyarakat perantau yang sebagian besar orang-orang ‘ndeso’ bekerja sebagai pedagang, buruh, pekerja pabrik, jualan jamu gendong, serta menekuni profesi lainnya. Dan, sebaliknya bagi yang bernasib mujur, ada yang jadi pejabat, baik militer maupun sipil. Kendati tanah kelahiran mereka tergolong kering dan gersang, namun para perantau ini pun tak pernah lupa akan kampungnya.

Toh, bermula dari cara pandang masyarakat desa tersebut. Gagasan pun dilahirkan oleh Wasista Bambang Utoyo. Pun si anak jenderal itu hingga sekarang tetap optimitis dan fokus mensosialisasikan bagaimana wujud nyata keempat pilar kebangsaan agar terus-menerus berkumandang di tengah masyarakat luas.

Pada pekan ke-3 Juni 2017 lalu, anggota Dewan Perwakilan Rayat/Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia yang berasal dari Daerah Pemililhan 1 Sumatera Selatan, WBU menggelar acara sosiliasisasi empat pilar kebangsaan bersama organisasi masyarakat, Kelompok Tani, Karang Taruna, serta tokoh masyarakat di Banyuasin.

“Rasa kebersamaan yang kita bangun ini cukup indah. Terlebih lagi kita hidup di Indonesia yang kaya dan makmur. Sebab itu, marilah kita manfaatkan, pelihara, menjaga dan melindungi bumi pertiwi ini dari gangguan pihak manapun,” kali itu WBU berkata bijak.

Seperti apakah implementasi empat pilar kebangsaan itu? WBU menegaskan, semuanya harus dimulai dari memperkukuh ke empat pilar kebangsaan yaitu  Pancasila sebagai dasar negara, Undang-undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bentuk negara dan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.

“Empat pilar kebangsaan itu menjadikan kita semakin kuat dan tangguh sehingga kita pun mampu bersaing dengan bangsa lainnya,” tuturnya.

Sosialisasi WBU tentang pentingnya empat pilar kebangsaan taklah sampai di sini. Dia kemudian mengajak seluruh elemen masyarakat agar saling bahu-membahu menjadikan nilai kebhinekaan selaku agenda utama untuk selalu dijaga. Bahkan, Wasista pun mengakui diusianya yang berkepala enam, ia bersahabat dengan siapapun  yang memiliki latar belakang berbeda, baik suku, agama, dan golongan.

“Jadikanlah kebhinekaan perekat keutuhan berbangsa khususnya di tanah Banyuasin yang sama-sama kita cintai,” suara WBU disambut tepuk tangan meriah dari undangan. (RINALDI SYAHRIL DJAFAR)