Foto (Ist)

PALEMBANG,HS – Seorang anggota polisi yang bertugas di Polres Ogan Ilir, berinisial Bripda MGP (23) dilaporkan istrinya, RRN (24) ke Bidang Propam Polda Sumsel atas beberapa kasus. RRN berharap suaminya itu dihukum sesuai perundang-undangan dan segera bertaubat.
Kepada petugas, RRN mengatakan, paling tidak ada tiga kasus yang dilakukan Bripda MGP kepadanya. Yakni perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan penelantaran. Hal itu dilakukan sebelum maupun sesudah menjadi suami istri Desember 2017.
“Kami sudah menikah satu tahun ini, tapi dia kerap memukuli saya selaku istrinya, beberapa kali di sel disiplin belum juga sadar padahal dia seorang anggota polisi yang di rekrut karena hafiz harusnya mengerti agama dan tau tanggung jawab sebagai suami,” kata RRN saat melapor ke Bid Propam Polda Sumsel, Minggu (23/12/2018).
Dia menceritakan, perselingkuhan Bripda MGP terjadi seminggu sebelum pernikahan mereka November 2017. Saat itu, Bripda MGP digerebek warga sedang bersama seorang wanita di kost-kostan sampai warga mengusir bripda MGP dari kost-kostan itu setelah tim buser Polsek Sukarame datang ke lokasi.
“Itu terjadi seminggu sebelum kami menikah. Dia mengaku khilaf dan ingin berubah sehingga kami tetap menikah,” katanya
Ia juga menjelaskan, Perubahan baik terlapor hanya seumur jagung. Diawal pernikahan WIL diduga selingkuhan suaminya itu kerap menghubungi bripda MGP via telpon.
Selain itu, ia juga kerap kali memukulinya sampai babak belur hanya karena hal sepele. Beberapa KDRT itu ia laporkan ke Polres Ogan Ilir yang berakhir perdamaian karena Bripda MGP berjanji akan lebih bertanggung jawab dan berubah jadi baik.
Atas laporan ia suaminya dibina melalui program itikaf selama 40 hari namun tetap tidak berhenti berlaku kasar pada ia (istrinya).
“Berjanji lagi akan berubah, ingin jadi imam yang baik, tapi nyatanya tidak berubah sama sekali,” kata dia
Lanjutnya, Kemudian ia justru tanpa sepengetahuan saya mengajukan cerai kantor beberapa hari sebelum damai. Hal ini membuat RRN merasa dipermainkan.
Sepertinya suaminya sengaja mengajak damai supaya laporan pidananya dicabut dan perjanjian damai yang bripda MGP tanda tangani yang isinya akan hidup rukun cuma siasat supaya pihaknya mencabut laporan KDRT.
Ia juga kecewa karena itikad tidak baik yang dilakukan oleh suaminya tersebut ditindak lanjuti dengan keluarnya disposisi dari kantor. Padahal sudah ada perdamaian antara ia dan suaminya di tanggal setelah ia mengajukan permohonan cerai kantor tersebut.
“Setahun saya sendiri yang memenuhi kebutuhan rumah tangga kami berdua, baru bulan ini saya dikasih uang bulanan Rp 700 ribu oleh suami langsung dipotong gajinya setelah mengadu ke kantornya, itupun saya rasa tidak manusiawi dibanding gaji seorang polisi dan setelah setahun saya tidak dibiayai layak,”  pungkasnya
“Saya berharap suami saya benar-benar berubah setelah laporan ini saya buat, melupakan masa lalu masing-masing yang sudah didamaikan oleh Karo SDM yang menjabat pada saat itu disaksikan oleh anggota polisi lain, karena hal itu yang selalu dia ungkit, membenci saya karena dia di mutasi, dan beralasan marah karena saya sering mendatangi kantornya padahal saya ke kantor untuk mencari dia yang kerap kali tidak pulang ke rumah tanpa memberi kabar ke saya istrinya. Saya laporkan disiplin ini saya tidak ada niat apapun kecuali berharap dia bisa sadar kesalahannya juga dan taubat karena pertama kali saya kenal suami saya 2 tahun yang lalu dia adalah laki-laki yang sangat baik, keluarganya juga baik sekali,” tambahnya