PALEMBANG,HS – Meningkatkan populasi sapi dan kerbau Sumsel, khususnya Indukan Betina (IB), maka pemerintah pusat pengembangan akseptor (sapi dan kerbau betina wajib bunting). Di Sumsel ada 66 ribu sapi yang wajib bunting pada tahun ini. Namun hingga saat ini (semester pertama) program tersebut baru berjalan 20 ribu sapi.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumsel, Taufik Gunawan mengatakan, saat ini pemprov Sumsel gencar mencanangkan swasembada daging baik sapi maupun kerbau. Berbagai program baik yang dilakukan pemprov bersama kabupaten kota hingga pusat pun tengah digalakan. Salah satunya, program yang dikejar adalah pengembangan akseptor.

“Program ini yan mempercepat populasi sapi dan kerbau,” katanya selasa (18/7/2017),

Menurut Taufik, pemerintah mengalokasikan 66 ribu sapi dan kerbau wajib bunting. Sedangkan 60 persen wajib bunting. Jenis sapinya yakni bali, Brahman, limosin dan sapi lokal lainnya.  Sejauh ini, baru 20 ribu sapi dan kerbau atau baru 30 persen yang sudah berjalan.

“Artinya masih ada 40 ribu sapi dan kerbau lagi yang belum. Ini akan kami kejar enam bulan tersisa,” ucapnya.

Diakui Taufik, program ini tergolong lambat. Selain program ini baru berjalan pada triwulan pertama. Juga terkendala pada proses pembiakan sapi dan kerbau. Dimana sapi di Sumsel ini dominan tidak dikandang berbeda dengan hewan ternak di daerah lain yang dikandang. Lalu, akses dan fasilitas serta berbatas (jarak) yang jauh.

“Hewan yang tidak dikandang menyulitkan program inseminasi,” ucapnya.

Kemudian, kata dia, tenaga yang masih terbatas. Harusnya per hari itu ada 200 hingga 250 hewan yang diinseminasi. Sedangkan Sumsel hanya mampu melakukan inseminasi 150 sapi per hari. Jadi kalau dihitung, paling tidak hanya sekitar 50 ribu hingga 55 ribu sapi bisa di inseminasi atau 90 persen.

“Ini akan terus dikejar agar mencapai paling tidak 60 ribu hewan,”pungkasnya

Berdasarkan data, kata dia, ada 15 kabupaten kota yang melaksanakan program ini. Hanya Pali dan Muratara yang tidak mendapatkan alokasi. Namun daerah yang paling lambat programnya adalah Empat Lawang dan Lubuklinggau Sedangkan tertinggi adalah OKU dan Banyuasin.  Program ini direncananya dikembangkan secara bertahap dengan program multiyears.

“Artinya, kehamilan sapi itu selama 9 bulan, sehingga berhasil atau tidak program ini  baru dapat diketahui pada September hingga akhir tahun,” tegasnya (MDN)