Petani sedang memanen cabai rawit

JAKARTA, HS – Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, melambungnya harga cabai rawit merah bukan disebabkan adanya kartel. Melainkan karena faktor curah hujan yang tinggi. Namun pemerintah belum memiliki solusi kongkrit.

Ketika ditanyakan bagaimana upaya pemerintah menurunkan harga cabai rawit merah? Mendag justru pasrah.

“Ya gimana kita pakai doa aja supaya enggak hujan,” cetus Enggartiasto di Kantor Koordinator Perekonomian, Jakarta.

Februari 2017 ini, harga cabai rawit merah merangkak naik di sejumlah daerah. Di Jakarta misalnya, harganya menembus harga Rp 160.000 per kilogram. Padahal, harga normalnya hanya sekitar Rp 50.000 per kg.

Namun tutur Mendag, harga cabai rawit merah di Ambon hanya Rp 55.000 per kg. Menurutnya, hal itu disebabkan karena curah hujan di Ambon tidak setinggi di Jakarta.

Ia mengungkapkan, curah hujan tinggi membuat suplai cabai dari petani berkurang. Walaupun dipaksakan dikirim ke pasar, pasokan cabai akan cepat busuk.

Lantas mengapa harga cabai jenis lainnya tidak melonjak setinggi cabai rawit merah?

Mendag mengatakan, hal itu lantaran harga normal cabai lainnya memang lebih rendah dibandingkan harga cabai rawit merah.

Ia yakin, harga cabai rawit merah akan kembali turun bila curah hujan juga menurun. Namun ia belum tahu kapan curah hujan akan berkurang.

“Tanya sama Tuhan kapan hujan berhenti,” ucapnya.

Apakah ada kemungkinan pemerintah membuka keran impor cabai untuk mencukupi kebutuhan di pasaran, Mendag hanya menutup opsi itu. (kom)