PALEMBANG,HS-Masuk sekolah terbaik di Kota Palembang seperti SMA Negeri Plus 17 merupakan hal yang membanggakan. Namun sayangnya, para siswa ini juga bakal sedikit merasakan kesedihan. Pasalnya, mereka harus berpisah dengan orang tua, karena harus menetap di asrama yang disediakan di SMA Negeri 17. Tak hanya itu saja. Merekapun bakal sulit untuk berhubungan dengan dunia luar, karena para siswa ini dilarang untuk membawa handphone ke sekolah. Tapi itu hanya sementara.

Saat kenaikan kelas X ke kelas XI, para siswa ini tak lagi harus tinggal di asrama. Lagi pula, mereka tak akan tinggal di asrama full satu tahun. Para siswa ini hanya masuk ke asrama pada hari minggu sore dan jumat sore sudah diperbolehkan pulang ke rumah, begitu terus setiap harinya hingga siswa naik ke kelas XI.

Meski sudah sekitar tiga minggu siswa ini tinggal di asrama. Namun pada selasa (25/7) SMA Negeri 17 baru mengadakan acara penerimaan untuk siswa barunya. Acara yang diadakan di Gedung Tiara Puspa ini, tampak sangat haru dan mendalam bagi para siswa.

Para perwakilan setiap kelasnya, diserahkan oleh orang tuanya masing-masing ke pihak sekolah. Pihak sekolah inilah yang nantinya akan membina dan mengajarkan para siswa untuk menjadi siswa yang berprestasi.

Rasa haru ini juga dirasakan oleh Nikoline. Menurutnya, karena ia hendak belajar untuk mandiri sehingga ia mau untuk jauh dari orang tuanya. “Niatnyakan belajar mandiri, bismillah sajalah,” katanya.

Nikoline mengungkapkan, jika selama tinggal di asrama sekolah ia tidak bisa sebebas ketika berada di luar. Semua kegiatan di sekolah ini sudah terjadwal dari pagi hingga menjelang tidur.
“Seusai sekolah sampai sekolah. Katanya malem juga ada kegiatan mengajar lagi, pasti bosen jugalah. Tapi nikmati sajalah, kan cuma satu tahun” katanya

Hal yang sama juga dirasakan oleh Anggun Santi. Menurut Anggun, ini merupakan pengalaman pertama ‎ia harus jauh kedua orang tuanya.

“Sedih sih, tapi harus semangat, karenakan sekolah ini untuk meraih cita-cita,” katanya.

Selama sekitar tiga minggu ia tinggal di asrama, Anggun mengaku sangat kehilangan sosok mama. Pasalnya, mamanyalah yang selalu memperhatikan dan membantu semua kebutuhannya di rumah.

“Kalau di sekolahkan semua di urus sendiri. Walaupun untuk makan ataupun cuci baju sudah ada yang ngurus, tapi ya bedalah. Walaupun memang setiap seminggu sekali juga pulang ke rumah,” terangnya.

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 17, mengatakan, untuk Pembangunan karakter dan wawasan global menjadi fokus SMA Negeri 17 dalam membina siswa baru. Oleh sebab itu sebanyak 457 peserta didik baru sebelum diterima menjadi siswa baru, mereka harus terlebih dahulu mengikuti kegiatan homestay‎ yang diadakan di Desa Gelebak Dalam Kecamatan Rambutan Kabupaten Banyuasin pada 20-22 Jul 2017 yang lalu.

“Kegiatan ini merupakan rangkaian dari pengenalan sekolah baru. Sebelumnya siswa baru sudah ini sudah mengikuti latihan kedisiplinan yang dibina oleh prajurit Kodam II/ Sriwijaya dan kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS),” katanya.

Parminpun menjelaskan, saat melaksanakan kegiatan homestay tersebut, para siswa ini dibagi menjadi beberapa kelompok dan tinggal bersama keluarga petani. Disana, para siswa menginap selama tiga hari dua malam untuk mengikuti kegiatan para petani tersebut.

“Seperti anak angkatlah. Mereka harus mengikuti seluruh aktifitas keluarga seperti memasak, mencuci, bertani, dan kegiatan lainnya,” jelasnya.

Disinggung mengenai Asrama bagi siswa baru, Parmin mengaku, hal itu bukanlah masalah‎. Pasalnya, berkat dana sumbangan dari para walimurid, SMA Negeri 17 telah membangun tiga unit asrama di SMA Negeri 17. “Jadi semua siswa baru ini dapat tinggal dengan baik,” katanya.

Selain asrama, berkat adanya dana sumbangan dari para walimurid. SMA Negeri 17 telah membangun laboratorium‎, lapangan basket terbaik di Palembang, ruang guru yang representatif, dan membangun kebutuhan guna menampung potensi anak.

“Jadi fasilitas inikan untuk anak-anak kita. Jadi untuk merealisasikan hal ini, perlu niat baik semua pihak,” tegasnya (HSN)