Kelas inklusi di SMPN 18 Palembang

PALEMBANG,HS – Siapa sangka dari total 1140 siswa SMP Negeri 18 Palembang, 20 diantaranya merupakan anak berkebutuhan khusus (ABK) yang mendapatkan pendidikan inklusi.

Memang Jika dilihat sekilas, mungkin tak ada yang berbeda dari suasana kegiatan belajar mengajar di SMP N 18 Palembang dengan sekolah lainnya.
Kepala SMP N 18 Palembang, Badaruddin mengungkapkan, untuk siswa ABK yang diterima disekolah dengan kekurangan pada keterbelakangan mental , belum ada yang mengalami kekurangan fisik (disablitas). Total siswa ABK selama dua tahun belakangan berjumlah 20 orang.

” Seharusnya setiap kecamatan 1 SMP sekolah project pendidikan inklusi. Namun sekarang yang baru berjalan hanya dua yakni SMP N 18 dan SMP N 14,” ungkapnya, Senin (20/2)

Ia mengatakan, pendidikan pembelajaran pada siswa ABK tidak lah jauh berbeda dengan siswa normal. Akan tetapi, pada segi penilaian dari bidang pembelajaran yang dibedakan dan diberikan cara khusus.

” Tidak sama, cara menilai siswa ABK dan normal. Tentunya siswa ABK akan lebih dikhususkan dan diperhatikan,” paparnya.

Selama ini, Badaruddin mengatakan antara siswa yang normal dan ABK tidak mengalami masalah. Melainkan, siswa normal membantu dan mengarahkan temanya yang ABK dalam memahami pembelajaran.

” Mereka kita gabung, siswa normal dan ABK sama saja. Mereka sama sekali tidak bermasalah, malahan sangat membantu terhadap temannya yang ada kekurangan,” pungkasnya.

Sementara itu, Erna Feroza, salah satu guru mata pelajaran matematika kelas 7 SMPN 18 mengatakan, Sejak tahun 2015, berdasarkan surat keputusan (SK) Diknas kota Palembang, SMP N 18 menjadi satu dari dua sekolah pilot project penyelengara pendidikan inklusi jenjang SMP. Pendidikan inklusi diberikan bagi anak anak yang mengalami masalah keterbelakangan mental dan disabilitas.

“Proses pembelajaran yang diberikan antara siswa normal dan ABK tidak ada pembedaan melainkan diberikan cara yang sama. Akan tetapi, penerapan akan pemahamam materi kepada siswa ABK memang diberikan secara perlahan dan bertahap,”ujarnya.
Dia mengungkapkan, tantangan terbesar dalam memberikan pendidikan kepada siswa ABK ialah bagaiamana harus bisa mengerti keadaan mereka.Selalu bersabar harus diterapkan dalam memberikan pengajaran kepada siswa ABK.

” Step by step ini yang saya lakukan dalam memberikan pembelajaran kepada mereka. Siswa ABK harus selalu lebih diperhatikan agar mereka bisa menangkap pembelajaran,” Paparnya.

Lebih Jauh Erna mengaku, dalam pemberian pembelajaran siswa ABK dilakukan berdasarkan pengalaman guru secara otodidak. Pasalnya, selama ini belum ada pelatihan dan pembekalan yang pasti dalam pengajaran guru ke siswa ABK.

” Intinya hanya fokus mengajar seperti biasa, layaknya anak sendiri diajarkan dengan penuh kasih sayang,” pungkasnya(HSN)