jumpa-pers-sma-10_20161125_163223PALEMBANG,HS – Komite Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 10 Palembang membantah keras adanya aksi pungutan liar (pungli) dan aksi kriminalisasi yang dilakukan oleh pihak sekolah. Hal ini dikonfirmasi langsung oleh Kepala Sekolah SMA Negeri 10 Palembang, setelah muncul pemberitaan di salah satu media cetak edisi Jumat (25/11) terhadap tuduhan aksi pungli yang di alamatkan kepada Sma 10 Palembang.

Kepala Sekolah SMA Negeri 10 Palembang, Fir Azwar, menjelaskan bahwa sesuai kesepakatan bersama dalam rapat dengan Komite Sekolah SMA Negeri 10 Palembang telah memutuskan menerima sumbangan sukarela dari seluruh siswa.

“Itu merupakan sumbangan sukarela bukan pungli karena setiap siswa tidak wajib memberi sumbangan. Selain itu, jumlah sumbangan juga berbeda sesuai kemampuan wali murid dan sumbangan yang diterima langsung masuk ke rekening Komite Sekolah,” tegasnya.

Jumlah murid di SMA Negeri 10, kata Fir, total terdapat lebih kurang 1460 siswa. Namun, hingga saat ini kami baru menerima sumbangan dari 170 siswa. “Itu artinya kami tidak memaksakan, kalau kami memaksakan minimal separuh dari jumlah murid ataupun semua murid harus membayar sumbangan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, pihaknya akan melakukan upaya hukum kepada oknum wali murid maupun pihak media cetak tersebut yang dianggap sudah membeberkan berita yang menyesatkan publik. “Kami merasa sangat disudutkan dan dilecehkan dengan pemberitaan itu,” ujarnya.

Dirinya juga mempertanyakan dan memprotes maksud dari desain seragam PGRI di media cetak tersebut dengan desain yang melecehkan. “Dengan membuat desain itu sudah sangat melecehkan simbol-simbol dunia pendidikan terutama di kota Palembang,” tegasnya.

Sementara Heru salah satu orang tua murid SMA 10 yang berhasil di mintai keterangannya terkait isu pungli yang menerpa tempat anaknya bersekolah,saat di mintai keterangan mengatakan sangat terkejut karena menurutnya tidak ada laporan dari putrinya terkait pungli di sekolah,yang ada menurutnya adalah sumbangan sukarela.

“Setau saya tidak ada permintaan dana yang macam-macam selama ini di laporkan anak saya dari pihak sekolah, adapun sumbangan sukarela memang ada itupun hasil dari rapat komite yang saat itu juga saya menghadirinya besarannya 0 sampai empat ratus ribu sekian pastinya saya tidak ingat dan itupun sifatnya sukarela karena rencananya akan digunakan untuk membeli laptop, untuk melancarkan proses Ujian Nasional Berbasil komputer (UNBK)”,Tukas heru.