069894100_1468853656-20160718--Pecandu-Narkoba-Filipina-REUTERS-02

Pecandu narkoba mengangkat sumpah untuk tidak menggunakan narkoba di Kota Tanauan, Filipina

Haluan sumatera – Ribuan pengedar dan pecandu narkoba di seantero Filipina menyerahkan diri kepada polisi lantaran takut dengan ancaman tembak mati oleh Presiden Rodrigo Duterte

Lebih dari 500 orang pecandu narkoba di distrik Bonuan Gueset, Kota Dagupan, se.kitar 200 kilometer sebelah utara Ibu Kota Manila, menyerahkan diri kepada kelapa desa dan menandatangani surat permohonan minta direhabilitasi.

“Mereka takut mati,” kata Kepala Desa Rocardo Mejia kepada harian The Philippine Daily Inquirer yang dilansir koran the Straits Times, akhir Juni lalu.

Sejak dia terpilih menjadi presiden ke-16 Duterte sudah membuktikan janjinya untuk memerangi narkoba dengan menembak mati para pengedar dan pecandu.

Kepolisian Filipina menghabisi tak hanya pengedar narkoba selama dua bulan terakhir. Pejabat pemerintah kota pun jadi sasaran. Rabu (3/8) dini hari waktu setempat, di Kota Albuera, enam pengawal Wali Kota Rolando Espinosa ditembak mati oleh polisi. Sang wali kota dan anaknya dituding membekingi peredaran narkoba.

Seperti di beritakan sebelulmnya juga Presiden Rodrigo Duterte memerintahkan Pengepungan kediaman sang wali Espinosa. Awal pekan ini, presiden yang baru sebulan lebih menjabat itu mengeluarkan perintah tembak di tempat bagi Espinosa. Sehari sebelum terjadi tembak- menembak di Albuera, Espinosa lebih dulu menyerahkan diri.

Sang anak, Kerwin Espinosa, diakui terlibat sindikat narkoba. “Wali Kota (Espinosa) telah menyerahkan diri pada anak buah saya akibat ancaman tembak di tempat,” kata Ronald de la Rosa, Kepala Polisi Filipina seperti dilansir Sun Star.

Kerwin dikenal warga sebagai bandar narkoba di kawasan Pulau Leyte. Selama ini, karena statusnya anak wali kota, dia tak pernah tersentuh hukum. Belum diketahui di mana persembunyian Kerwin selepas anak buahnya ditembak mati polisi.

Editor : SNI