PALEMBANG,HS – Sebelumnya Pihak PT Modern Widya Technical selaku Kontraktor Pembagunan Fly Over Simpang Bandara Menargetkan, Pembangunan Fly Over Simpang Bandara Tanjung Siapi – Siapi Maret 2018 Selesai kini Terancam Molor,

Hal ini disampaikan langsung oleh Site Manager PT Modern Widya Technical Proyek Fly Over Simpang TAA Haris Maya didampingi oleh Kepala K3 Mus Mulyadi, Senin (23/9/2017),

“Ya, bahwa dua minggu lalu ada sebagian pengerjaan Rigid atau pengecoran jalan diminta untuk dihentikan karena lahan diduga milik ruko komplek Bandara Mas Simpang TAA,” ujar Haris

Lanjutnya, kejadian tersebut menjadi hambatan bagi kontraktor untuk mengejar target Maret 2018 Fly over selesai.

“Kurang lebih dua minggu pegawai tidak bisa bekerja di daerah tersebut karena ada klaim tanah tersebut milik ruko (bandara mas). Kemaren sudah kerjakan Rigid, tapi pemilik ruko klaim lokasi tersebut bahwa posisi itu punya beliau,” katanya

Haris juga melanjutkan, pengerjaan Rigid tersebut sepanjang 120 meter dan baru dikerjakan sepanjang 80 meter. Karena pengerjaan di stop, maka pengerjaan masih menyisakan 40 meter lagi untuk Rigid di sekitar area tersebut,

“Ini di luar pagar mereka kira-kira 1,4 meter. Ketika ada pekerja sedang bekerja langsung di stop. Dari hasil penyetopan itu tentu akan delay, pengerjaan sehingga terhambat mengakibatkan progres pengerjaan kita tidak tercapai di bulan Maret 2018,” ungkapnya.

Untuk menindaklanjuti ini, Haris mengatakan pada Selasa (26/9) baik kontraktor maupun dari pihak PU akan mendatangkan Badan Pertanahan Negara (BPN) yang fungsinya akan melakukan pengukuran langsung. Jika terjadi penyerobotan maka akan dikoreksi kembali dan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) selaku yang bertanggung jawab terkait pembangunan Fly over akan melakukan ganti rugi.

“Jadi disitu akan terlihat kebenarannya, kalau memang itu milik mereka (Bandara Mas), kami siap untuk ganti rugi. Tapi rasanya itu tanah milik Pemerintah,” ujarnya

Pengerjaan rigid tak hanya dikerjakan di arah Alang Alang Lebar (AAL) tapi juga diberbagai titik, diantaranya arah Soekarno Hatta dan Kol H Burlian. Rigid yang dilakukan oleh kontraktor lumayan tebal hingga mencapai 30 cm sehingga pengerjaan membutuhkan waktu yang cukup lama.

“Belum lagi kendaraan yang melintas, itu salah satu yang menghambat, kalau semua jalan ditutup juga tidak mungkin karena ini kan untuk kepentingan publik,” terangnya

Sementara itu, Kepala K3 pembangunan Fly over TAA Mus Mulyadi menambahkan selain lahan di sekitar bandara mas, juga ada lahan yang menggunakan lahan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), baik di jalan menuju AAL maupun Kol H Burlian. Namun, sambung Mus lahan tersebut tidak ada masalah karena beberapa waktu lalu AURI telah menghibahkan lahannya dengan MoU yang dilakukan di Jakarta,

“Sekarang ini tinggal membongkar bangunan yang ada di sekitar lahan tersebut. Ada ganti rugi bangunan nantinya yang akan dibayarkan oleh Pemkot Palembang,” ungkapnya

Pembangunan Fly over di Simpang Bandara terbilang cukup rumit karena bersinggungan dengan pengerjaan Light Rail Transit (LRT). Namun menurut Mus itu bukan suatu kendala karena terus berkoordinasi dengan pihak Waskita selaku kontraktor pengerjaan LRT.

“Kita gantian kerjanya, kalau Waskita bekerja, kita kerjakan di titik lain. Begitupula saat kami bekerja, Waskitanya yang stop. Jadi saat kami standby tentu saja menghabiskan waktu, tapi itu bisa diatasi karena yang paling kami takutkan adalah masalah lahan di ruko tersebut,” bebernya.

Ia menambahkan, Saat ini secara keseluruhan progres Fly over sudah mencapai 65-70 persen. Jika ini sudah selesai, Fly Over tersebut mampu menahan beban hingga ribuan ton mengingat di daerah tersebut adalah tempat berlalu lalang kendaraan bertonase ratusan ton,