Aegis Adriphati, tetap semangat laksanakan UN meski harus berbaring di tempat tidur

PALEMBANG,HS – Orang tua mana yang tidak shock saat dokter memvonis umur anaknya tinggal 35 persen lagi, seperti yang dialami seorang pelajar yang bernama Aegis Adriphati, siswa berprestasi yang sempat menjadi duta lingkungan Adiwiyata dari SMP 13 Palembang tersebut yang harus melawan penyakit tumor tulang yang ganas.
Meskipun penyakit tumor ganas tengah menggerogoti tulangnya namun, semangat belajarnya yang tinggi Aegis terpancar dan tak menandakan kesedihan saat ia mengerjakan Ujian Nasional di kamar pribadinya dengan pengawasan Ujian yang diutus sekolah.

Aegis yang bercita-cita menjadi seorang pilot ini tetap bersemangat mengikuti UN pada hari kedua, hal ini terlihat saat pengawas datang kerumahnya menyerahkan soal yang harus dikerjakannya.

Dengan menganakan baju bergaris dan selimut merah, remaja kelahiran Palembang 18 Desember 2002 silam ini pun langsung berkonsentrasi menyelesaikan setiap butir soal dengan teliti.

Penyakit kanker tulang ini dirasakan sejak pertengahan puasa tahun 2016 lalu, ia mengalami sakit pada bagian kaki. Tak lama kemudian Aegis pun susah berjalan dan sakit pada kakinya bertambah parah.

“Karena tak mau bolos sekolah, akhirnya saya tetap paksakan sekolah,” ujarnya.

Hingga suatu ketika ia terpeleset di rumahnya dan sejak itu sakit di kakinya tak bisa ditolerir lagi. Aegis yang hanya tinggal bersama neneknya ini pun dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan.

“Setelah didiagnosa dokter, barulah diketahui jika ada kanker tulang ganas di kaki saya. Sempat ditawari amputasi, tapi saya tidak mau,” ungkap bungsu dari dua bersaudara ini.

Pasca mengetahui penyakit tersebut, ia pun banyak beristirahat di rumah sejak awal September 2016. Aegis pun harus menerima pelajaran dari atas tempat tidurnya karena guru dan teman-temannya sering datang menjenguk untuk sekedar menghiburnya dan berbagi materi.

“Kesulitannya memang saat mau belajar, harus berbaring terus. Karena untuk duduk pun sudah sulit,” ujar remaja yang mengaku hobi main sepeda ini.

Untuk menghadapi UN kali ini, Aegis pun sudah belajar banyak simulasi soal dari internet. Kondisinya saat ini tidak membuat Aegis patah semangat dan justru menjadi pemantik untuk bisa lanjut sekolah.

“Kalau mampu home schooling saja. Saya tetap ingin lanjut sekolah, seperti kakak saya yang saat ini kuliah,” ujarnya.

Sementara itu, sang nenek sendiri Masayu Nurilah Murni mengaku cukup sedih melihat kondisi cucunya. Apalagi kedua orangtua Aegis sudah berpisah dan ayahnya pun tak tahu rimbanya.

“Saya bersyukur, Aegis masih bersemangat untuk sekolah. Apalagi teman-temannya juga sering besuk, makanya ia tetap ingin lanjut sekolah,” ujarnya.

Perjuangannya untuk menyembuhkan sang cucu sendiri sudah ia lakukan semaksimal mungkin. Bahkan pernah berobat hingga ke Jakarta dan sempat lima kali kemoterapi.

“Berbagai upaya saya tempuh, termasuk pilih jalur tradisional. Namun sepertinya Tuhan berkehendak lain, kami diberi ujian seperti ini,” jelasnya.

Ia mengaku, cucunya cukup membuatnya bangga dengan prestasi yang diukirnya selama ini. Bahkan Aegis pernah menjadi juara cerdas cermat tigkat kota dan dari kelas X selalu ranking 3 besar.

“Saat kelas IX juga masuk kelas unggulan. Prestasinya selalu membuat saya bangga. Semoga saja ia lekas sembuh dan bisa menggapai cita-citanya,” ungkapnya.

Semangatnya belajar tinggi, bahkan ia masuk jalaur Penelusuran Minat dan Prestasi Akademik ( PMPA) di SMA unggulan,” terangnya.

Sang Nenek menyatakan terima kasih kepada sekolah yang memberi dispensasi dan memfasilitasi mengikuti Ujian Nasional.

“Lima kali kemo dan sempat dioprasi, mudah-mudahan semangatnya mampu menyembuhkan penyakitnya,” harapnya. (HSN)