Sisa-sisa sampah dari gotong royong ternyata bisa dimanfaatkan menjadi rupiah

Sisa-sisa sampah dari gotong royong ternyata bisa dimanfaatkan menjadi rupiah

PALEMBANG, HS – Komunitas Masyarakat Peduli Banjir Kota Palembang mendapat pembinaan dari Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pengendalian Sumber Daya Air (BM-PSDA) Kota Palembang untuk memanfaatkan sisa plastik sampah menjadi barang berharga.

“Selama ini Komunitas di bawah binaan Dinas PU BM-PSDA dibentuk untuk membantu mengatasi persoalan banjir di masing-masing wilayahnya. Namun, selama ini kegiatan bersih-bersih yang dilakukan, tidak berdampak pada benefit untuk mereka. Karena itulah kegiatan pelatihan sosialisasi pemanfaatan sampah plastik ini dilaksanakan,” kata Kepala Dinas PU BM-PSDA, Dharma Budhy melalui Kepala Seksi Pembinaan Teknis Bidang Pengendalian Banjir dan Drainase, Raden Ayu Marlina Sylvia, beberapa hari lalu.

Lewat pelatihan ini, komunitas yang telah terbentuk ini, tidak hanya fokus sebatas kegiatan gotong royong bersih-bersih sungai yang terus digalakan Walikota Palembang H.Harnojoyo.

“Hasil kerajinan tangan mereka ini akan menjadi sumber pendapatan,” cetusnya.

Menurutnya, di mana melalui pembangunan sistem pengendalian banjir tidak cukup hanya pembangunan sistem fisik seperti saluran, kolam retensi dan perpompaan. Sebuah sistem harus mencakup adaptasi gaya hidup, penggunaan lahan dan bergeraknya aktifitas sosial ekonomi.

“Harus ada sebuah sistem yang merujuk pada pencegahan serta pengurangan risiko banjir bagi penghidupan masyarakat maupun berlangsungnya sistem perkotaan oleh seluruh pemangku kepentingan. Di sini kami ingin menerapkan sistem tersebut melalui kepedulian dan kreatifitas,” terangnya.

Ia menambahkan, saat ini beragam kendala di lapangan yang dihadapi seperti bangunan liar bukan hanya di pinggir sungai tapi juga di atas sungai dan saluran. Badan sungai yang makin mengecil sampai seukuran saluran, penimbunan rawa yang tak terkendali, perubahan tata guna lahan yang begitu cepat baik legal maupun ilegal tanpa dilengkapi dukungan prasarana dan sarana yang memadai, membutuhkan sebuah kepedulian dari masyarakat itu sendiri.

Konflik sosial antar kampung ketika masalah banjir, dapat mengganggu penghidupan ekonomi masyarakat maupun sistem kota. Akibatnya, kondisi sosial ekonomi masyarakat di bantaran sungai, terlihat semakin terpuruk.

“Setiap permasalahan yang dihadapi tersebut membutuhkan pemecahan masalah yang terencana, terstruktur dan berkesinambungan. Kondisi ini memerlukan kerja sama dan peranan berbagai sektor dan pemangku kepentingan,” tandasnya. (UDI)