PALEMBANG, HS – Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang melalui Dinas Perhubungan (Dishub) Kota bersama tim Jasa Angkutan Indonesia (JAI) anak perusahaan PT Pelindo beserta Jasa Asuransi Spica Indonesia meninjau ke lokasi tempat insiden kejadian kapal tongkang angkutan batubara yang menabrak pelindung Jembatan Ampera (fender).

“Kita hari ini bersama tim turun kelapangan baik dari pemerintah, Balai Besar Jembatan, PU dan dari tim konsultan mereka,” ujar Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kota Palembang, Kurniawan.

Ia juga mengatakan, kedepannya pemerintah kota melalui dinas perhubungan akan menerapkan sistem pengawalan kapal-kapal tongkang yang bermuatan selama dalam pelayaran.

Sementara tim dari Jasa Asuransi Spica Indonesia, Rezandi mengatakan, hasil daripada investigasi di lapangan secara visual adanya retak di bagian kolom fender.

“Ada retak di bagian kolom,” ujarnya.

Mengenai ganti rugi yang akan dibayarkan oleh asuransi, Kurniawan menjelaskan bahwa akan ada proses lebih lanjut.

Sementara, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Jembatan Metropolitan, Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional Wilayah Sumatera V, Suwarno mengatakan telah melakukan kroscek ke lokasi dan tidak ada kerusakan yang cukup parah untuk Jembatan Ampera setelah ditabrak kapal tongkang bermuatan batubara.

Suwarno mengatakan, setelah melakukan peninjauan di Jembatan Ampera, ia melihat untuk tempat dudukan Jembatan Ampera belum terlihat pergeseran dan tidak ada keretakan sangat signifikan terhadap jembatan.

“Kita lihat ada empat dudukan, secara teknis kalau di bawah ini goyang pasti dudukan yang mengalami pergeseran. Kami cek tadi itu tidak mengalami keretakan, kalau secara visual cuma tergores sekitar 30cm,” katanya.

Namun untuk pengecekan secara teknis, akan dilakukan pihaknya dengan mendatangkan alat Bondit. Suwarno mengungkapkan untuk alat Bondit itu sendiri adalah alat pengecek keretakan suatu beton prinsip kerjanya seperti dengan alat kedokteran yaitu USG.

“Alat bondit itu dapat mengecek keretakan tulang jembatan, apakah bergeser atau tidak,” ungkapnya.

Lebih lanjut, kalau memang terjadi keretakan pada Jembatan Ampera pihaknya telah menyiapkan alat Grouting.

Suwarno menjelaskan untuk alat Grouting tersebut, merupakan material yang mempunyai sifat cair atau flowable dan digunakan untuk mengisi ruang kosong diantara dua bidang, mentransfer beban, meratakan dudukan mesin dan struktur diatasnya, dan mempercepat waktu pengerasan karena bersifat fast setting sehingga dapat segera digunakan.

“Itu teknologi terbaru. Kalau memang terjadi keretakan akan disuntik dengan tekanan beberapa bar dan mutu tinggi di atas 500kg/cm kuat tekannya beton grouting tadi,  itu nanti beton yang akan masuk ke sela-sela retakan, grouting dengan beton,” jelasnya. (ATM)