Wakidi, pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi, warga Ogan Ilir saat menunjukan foto bersama Dimas Kanjeng dan kalender.

Wakidi, pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi, saat menunjukan foto bersama Dimas Kanjeng dan kalender.

OI, HS– Wakidi (48), pengikut Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, masih sangat yakin jika Dimas Kanjeng sakti dan mampu menggandakan uang.

Bahkan, warga Kota Terpadu Mandiri (KTM), Desa Sungai Rambutan, Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir (OI), juga yakin, uang sebanyak Rp 50 miliar yang dijanjikan untuk tiap santri sebagai dana sosial kemasyarakatan tetap akan cair, meski Dimas Kanjeng sendiri sudah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka.

Ditemui dirumahnya, Wakidi bercerita, dirinya bersama rekannya Ali Muktamar yang juga warga Sungai Rambutan pertama kali menjadi santri Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi pada tahun 2012 silam, setelah dirinya pergi ke Jawa Barat dan bertemu dengan teman lamanya pada bulan September 2012.

Uang yang pernah diberikan sebagai mahar kepada padepokan tersebut sebagai mahar berjumlah Rp 15 juta. “Uang itu saya berikan tidak sekaligus. Antara tahun 2012 hingga tahun 2016 sekitar Rp 15 juta. Mahar itu untuk mendapatkan video CD, kantong putih dan PIN,” ujarnya, Rabu (12/10), sambil menunjukan kalender, cincin dan foto bersama Dimas Kanjeng.

Suami dari Sumarni mengatakan, alasan dirinya tertarik untuk menjadi pengikut Kanjeng Dimas karena akan diberikan dana amanah yang nilainya minimal Rp 50 miliar per santri.

“Untuk menjadi pengikut Dimas Kanjeng, harus menjadi santri dan santri akan diberikan dana amanah. Dana amanah tersebut digunakan untuk kegiatan sosial, seperti untuk anak yatim piatu, kaum duafa, untuk membangun pesantren, pendidikan dan kesehatan. Jadi saya menilai padepokan tersebut mempunyai tujuan mulia,’’ ungkapnya.

Wakidi yang juga melihat langsung proses penangkapan Dimas Kanjeng dan pulang ke rumah pada 30 September 2016 lalu mengaku yakin dan percaya dengan Dimas Kanjeng serta tetap menjadi pengikut setia.

“Guru kami tidak pernah mengajarkan santrinya menjadi pengikut yang sesat. Guru tidak pernah mengatakan, Saya (Dimas Kanjeng) itu Tuhan, Tuhan Itu saya, tidak pernah sama sekali, jadi mana yang dikatakan sesat,’’ tegas Wakidi.

Untuk istighosah, lanjut Wakidi juga wajib diikuti, kecuali tidak mampu untuk pergi ke Padepokan. “Kalau ada istighosah, dipastikan saya mendapat SMS, dan saya berangkat. Memang Dimas Kanjeng tidak pernah memimpin istighosah atau menjadi imam sholat,” tambahnya.

Disinggung pencairan dana amanah, Wakidi menjabarkan, rencananya pada 22 September 2016 lalu dana amanah akan dicairkan secara serentak untuk seluruh santrinya.

“Tapi satu hari jelang pencairan Guru Besar kami keburu ditangkap, jadi terpaksa ditunda pencairan dana amanah tersebut, sambil menunggu petunjuk dari Ketua Yayasan Padepokan, yakni Marwah Daud. Guru (Dimas Kanjeng –red), juga pernah berkata ada 117 gudang uang gaib di seluruh Indonesia, tapi saya tidak tahu ada dimana,” jelasnya.

Dengan tertangkapnya Dimas Kanjeng, sambung Wakidi, dirinya masih tetap yakin Dimas Kanjeng tidak bersalah dan dana amanah akan cair.

“Saya yakin dan tidak akan melapor. Nanti kalau ada pemberitahuan dari Marwah Daud untuk pencairan saya akan pergi ke padepokan. Jika benar uang tersebut akan saya gunakan untuk kegiatan sosial, di Ogan Ilir khususnya Desa Sungai Rambutan,” ungkapnya yakin. (EL)