PALEMBANG,HS – Ratusan Warga Binaan lapas Narkotila Kelas lll Palembang Rusuh puncak kemarahan warga binaan tersebut karna banyaknya pungutan liar yang dilakukan petugas Lapas,

Salah Satu Penghuni lapas kelas lll narkotika palembang mengaku banyak mengeluarkan uang untuk memperoleh fasilitas yang mestinya menjadi hak warga binaan.

Pungli di Lapas Narkotika Palembang telah jadi rahasia umum para penghuninya. Bahkan, pungli telah dimulai sejak warga binaan masuk lapas ini.

Salah satu Warga Binaan Deni, 28 tahun menceritakan, penghuni baru akan ditempatkan ke karantina. Untuk pemindahan ke blok, warga binaan harus membayar Rp1 juta ke petugas dan untuk mendapat fasilitas kamar seperti kasur, harus membayar Rp25 ribu. Uang itu diberikan pada tahanan pendamping (tamping).

“Ya, Belum lagi setiap hari dimintai uang rokok,” katanya saat dijumpai di Lapas Narkotika Klas III Palembang, Kamis, 6 Juli 2017.

Jenis pungli lainnya adalah pembebasan bersyarat. Khusus untuk ini, kata dia, warga binaan harus membayar Rp3 juta.

Maraknya pungli juga diungkapkan oleh penghuni lainnya, Hengki, 29 tahun, Dia bilang, setiap kali keluar blok, misal dibesuk keluarga, ia harus membayar minimal Rp30 ribu dan untuk mendapatkan wadah makan atau ompreng harus membayar Rp20 ribu.

“Pokoknya semua aktivitas kami di sini harus bayar. Bayar ke petugas,” tegasnya.

Karenanya, warga binaan kesal. Hengki bilang Kerusuhan yang terjadi pagi tadi merupakan bentuk spontanitas penghuni lapas. Mereka ingin petugas dan tamping yang melakukan pungli diberhentikan,

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kemenkumham Sumsel, Zulkifli Bustoni, mengakui latar belakang terjadinya kerusuhan lantaran pungli, terutama saat Lebaran kemarin.

Dia menduga tamping hanya mengatasnamakan petugas saat melakukan pungli. Namun, dia tidak mengesampingkan kemungkinan petugas terlibat pungli.

“Kami telah menghentikan sementara oknum petugas lapas berinisial SF karena diduga melakukan pungli terlebih lagi sudah lama dilakukannya,” kata Zulkifli.

Meskipun begitu, pihaknya tidak dapat langsung melakukan pemecatan karena harus di periksa terlebih dahulu.

Di tempat yang sama, Kepala Lapas Narkotika Klas III Palembang, Reza Yudhistira Kurniawan, menambahkan, tidak ada diskriminasi kepada para warga binaan Hanya saja, semakin banyak warga binaan maka semakin berkurang pula fasilitas.

“Jumlah tempat tidur atau kasur pun kurang,” jelasnya (MDN)