Tampak mobil angkutan survei siesmik yang selip di jalan yang menjadi akses menuju Desa Semangus.

PALI, HS – Putusnya jalan penghubung antara Desa Semangus, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten PALI membuat desa tersebut terisolir. Sebab, dua jalan penghubung menuju desa tersebut kini tidak dapat dilalui kendaraan lagi, diperparah jalan tersebut seringnya dilalui kendaraan survei seismik.

Hal ini dikatakan langsung oleh Kepala Desa Semangus, Sulaiman. Selaku pemerintah desa, pihaknya sudah beberapa kali meminta kepada pihak survei seismik untuk tidak lagi melalui jalan penghubung desanya dikala hari hujan, karena kondisi jalan semakin parah.

“Secara lisan, surat pengajuan sudah kita layangkan pada mereka (pihak survei seismik) tapi sampai sekarang belum ada realisasinya. Jalan itu setiap hari dilalui kendaraan mereka, seumpanya ada yang selip atau terlumpur, mereka lewat sampingnya, jadi jalan itu sudah kayak bubur aja dibuat mereka,” ujarnya sedikit kesal.

Lanjut Sulaiman, dirinya sebagai pemerintah desa sudah sering berkoordinasi dengan perusahaan lain untuk memperbaiki akses menuju desa Semangus tersebut.

“Kami sering minta bantuan untuk perbaikan jalan pada PT MHP atau perusahan lain, tapi dari seismik ini susah minta ampun untuk sekedar memperbaiki jalan,” imbuhnya.

Hal senada juga disampaikan Dedi (36), salah satu warga Desa Semangus. Dirinya menilai adanya pengerjaan survei siesmik ini membuat susah dan tidak ada untungnya untuk masyarakat.

“Kalau rugi itu sudah pasti, seharunya jalan kita tidak hancur seperti ini, masih ada jalur dikiri-kanan jalan yang bisa dilalui roda dua, ini semuanya diembat sama mobil survei Siesmik ini. Jalan yang tadinya untuk warga yang ke kebun naik motor dilewati pakek mobil itu, kan tambah merusak jalan, benar-benar tidak mikir itu orang (survei seismik, red). Kita mau mengeluarkan hasil tani saja susah mau menjualnya, mau ke kebun saja susah sekali lewat jalan ini,” cetusnya jengkel.

Ditambahkan lagi oleh, Erda (43) ibu rumah tangga yang membuka warung ini harus menjual dagangannya hampir dua kali lipat, sebab jarak yang ditempuhnya untuk berbelanja lebih jauh dan ongkosnyapun lebih tinggi dari biasanya.

“Ongkos kendaraan naik, karena jalannya lebih jauh, harga-harga sembakopun naik hampir dua kali lipat, biasanya kita jual minyak sayur Rp 16 ribu/kg sampai di sini kita jual 22ribu/kg,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan belum ada upaya yang dilakukan oleh pihak pemerintah dan desa ataupun pihak perusahaan untuk memperbaiki jalan yang menjadi urat nadi perekonomian warga tersebut. (MAN)