PALEMBANG,HS – Pemred Jodanews.com dan Surat Kabar Umum Jembatan Informasi Jon Heri, sesalkan perlakuan anggota Jatanras Polda Sumsel yang sedang melakukan razia premanisme di Jalan Pimpong samping Mall Palembang Square (PS). Pasalnya salah satu wartawan media ini M. Khaliq Simatupang ikut diciduk, padahal sudah menunjukkan kartu Anggota Persatuan Wartawan Indonesia ( PWI), Selasa (7/8).

Sementara pihak Jatanras melalui Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Sumsel AKBP Yoga Baskara dan Kanit III Subdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Sumsel Kompol Ahmad Bakhtiar meminta maaf atas kesalahpahaman tersebut, melalui Sekretaris Redaksi Andri Gustian yang datang ke Jatanras atas perintah Pemred serta mengembalikan kartu anggota PWI kepada wartawan jodanews.com Meida Sari yang bertugas di Polda Sumsel.

” Saya selaku Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Sumsel, memohon maaf atas perlakuan anggota saya di lapangan,” pintanya.

Sebenarnya ini hanya salah paham saja, antara anggota saya dan wartawan pada saat sedang razia. Dimana pada saat sedang melakukan razia preman anggota saya melihat ada seorang pria sedang merekam dan mengambil gambar, oleh karena itu anggota saya mendekat dan meminta handphone wartawan tersebut. Namun, wartawannya tidak mau memberikan hanphone-nya. Karena tak mau memberikan handphone-nya lalu anggota saya meminta kartu tanda penduduk (KTP) tetapi dia bilang tidak ada. pada saat itulah anggota sempat marah, hanya ada kartu organisadi PWI yang bisa ditunjukkan, jadi kartu tersebut yang ditahan.

Sementara itu, Kanit III Jatanras Ditreskrimum Polda Sumsel Kompol Ahmad Bahtiar mengatakan, “dak biso nunjukkan kartu wartawan, Kalo dari awal ngomong wartawan pasti dak ditahan, ini nunjuke kartu PWI sambil nak marah, jadi anggota bawa dan kartu ditahan,”jelasnya.

Menurut Jon Heri yang juga Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Sumsel, memang sekarang ini pihak kepolisian sedang giat-giatnya melakukan razia premanisme dalam rangka menjaga keamanan acara akbar yakni Asian Games,”kita sangat mengapresiasi giat dari pihak kepolisian ini, namun sangat disayangkan ketika di lapangan ternyata masih ada kelemahannya, seperti yang terjadi pada wartawan saya, ikut diciduk karena dituduh merekam aksi penangkapan dan tidak menunjukkan kartu Pers. Padahal wartawan itu sudah menunjukkan kartu PWI sebab kartu persnya ada di dalam box motor, tetapi masih juga dibawa dalam mobil dan tergabung dengan para preman,”ujarnya.

Ditambahkan Jon Heri, “seharusnya anggota yang mengambil kartu PWI itu dibaca dulu, sebab dalam kartu itu tertulis media yakni Surat Kabar Jembatan Informasi, mungkin karena ketidak mengertian anggota maka wartawan kami sempat dibawa dan kemudian mobil berhenti di seberang taman Dharma wanita di Jalan POM IX, disaat mobil berhenti wartawan ini turun dan menghadap Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Sumsel AKBP Yoga Baskara, sambil menunjukan kartu identitas Id Card (Kartu Pers), setelah melihat ID Card tersebut wartawan ini diperbolehkan pergi.

Masih menurut Jon Heri, “semoga dengan adanya peristiwa ini kita sama-sama intropeksi diri, sehingga tidak terjadi lagi di masa depan, sebab wartawan adalah mitra polisi,”kata Jon Heri.

Sementara menurut pengakuan M Khaliq simatupang, saat razia di jalan Pimpong tepatnya di samping PS, “saya baru selesai makan di rumah makan Selero Kito dan melihat ada razia preman, saya keluar dari rumah makan tersebut untuk melihat razia itu, saat itu ada polisi yang mendatangi saya sambil menuding bahwa saya telah merekam peristiwa razia tersebut, langsung meminta HP saya, untuk mengecek rekaman di dalam hp saya, karena hp diminta saya berikan sambil menjelaskan kepada polisi itu bahwa saya tidak merekam dan mengambil foto, saya juga mengatakan bahwa saya ini wartawan pak, dan kalo saya mau memfoto untuk membuat berita tersebut itu sudah kewajiban saya dalam menjalankan tugas sebagai jurnalis, dan lagian inikan tempat umum, kemudian anggota itu meminta saya menujukkan kartu wartawan (Kartu Pers), karena Id Card saya di dalam Box Motor saya memberikan kartu anggota PWI kepada petugas itu, sebab petugas tidak memberikan kesempatan kepada saya untuk mengambil dompet yang berada dalam Box motor. “jelas khaliq

Lanjut Khaliq, saat dia menjelaskan kalau dia wartawan malah oknum polisi tersebut mengatakan memang hebat apo kalo kau wartawan, bawak-bawak, lalu saya di bawak ke mobil dengan tangan di belakang sambil dipegang anggota serta didorong-dorong seperti membawa penjahat dan dikumpulkan dengan segorombolan preman di dalam mobil,”kata Khaliq.

Masih menurut Kholik, “saat dalam mobil saya di bawa ke depan Taman Dharma Wanita di JL Pom IX, saya melihat Kasubdit Jatanras Polda Sumsel AKBP Yoga dan saya langsung turun dari mobil menemui AKBP Yoga dan menjelaskan bahwa saya ini wartawan sambil menunjukan id card, lalu AKBP Yoga mempersilakan saya untuk pergi, “jelas Khaliq.

Seperti diketahui mendekati Asian Games, Tim Rimau Subdit III Jatanras Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumsel, kembali menggelar razia premanisme dibeberapa titik di Kota Palembang. Selasa (7/8/2019) sore. Razia premanisme dan aksi kejahatan jalanan dalam operasi kegiatan kepolisian yang ditingkatkan (KKYD) untuk menjelang Asian Games ini dilakukan di sekitaran bundaran Air Mancur, Jalan Jenderal Sudirman, kawasan Palembang Square Mall, Jalan POM IX, Jalan Angkatan 45, Jalan Kolonel Atmo, dan Pasar Burung.

Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Sumsel AKBP Yoga Baskara, mengatakan dari hasil razia tersebut petugas berhasil mengamankan sebanyak 17 orang pria yang diduga preman. selain itu pihaknya pun turut menyita barang bukti berupa sepeda motor yang tidak dilengkapi dokumen legal, dua botol miras, tuak, serta beberapa senjata tajam yang dibawa oleh pria yang diamankan tersebut.

“Yang bawa sajam masih kami periksa dan diproses penyelidikan apakah. Tentunya apabila syarat pidananya masuk, akan kami jadikan tersangka,” ujarnya.