PALEMBANG, HS – Seru-seruan ala Jurnalis FC– 20 Buah Durian Ludes dalam Sekejap suasana seru tersaji pada momen pertandingan persahabatan Jurnalis FC dengan UOL FC, Komunitas PS Palembang dan Scudetax FC di Venue Atletik, Jakabaring Sport City (JSC) Palembang, Sabtu (5/6/2021) pagi.

Tim sepakbola amatir Sumatera Selatan (Sumsel) berjuluk Laskar Deadline, menghabiskan 20 buah durian dan satu karung buah duku yang didatangkan dari Desa Tanjung Alam, Kecamatan Kikim Selatan, Kabupaten Lahat.

Desa ini memang dikenal memiliki tanaman duku dan durian yang setiap tahun menghasilkan pundi-pundi rupiah bagi para petaninya. Sebab biasanya, buah duku maupun durian dijual ke sejumlah daerah termasuk ke pulau Jawa.

“Jadi menu mabol (main bola) hari ini bukan cuma pempek, tapi ada duku dan durian kiriman Pak Sukaini dari Tanjung Alam, Lahat. Kepada Pak Sukaini kami ucapkan terima kasih, Bapak sekeluarga semuanya sehat dan duku serta duriannya makin lebat,” kata Kapten Jurnalis FC, Eko As.

Menurut Eko, duku asal Tanjung Alam ini tidak kalah manis dengan duku asli Komering yang sudah sejak lama terkenal. Bentuk dan ukuran buahnya juga tidak jauh berbeda.

“Cuma memang, karena duku ini baru dipanjat masih ada rasa asam-asam sedikit. Kalau yang suka rasa-rasa ‘seger’, malah ini lebih enak,” kata Eko.

Tentang durian, Eko tak meragukan rasanya. Apa lagi durian tersebut asli matang dan jatuh dari pohonnya. Dalam sekejap, durian itu pun ludes.

“Dari 20 buah itu, cuma satu yang cacat. Selain itu, the best. Ada isinya warna putih, kuning tembaga, bahkan satu ada yang agak oranye,” katanya.

Sementara itu, Ican Saputra mengatakan, musim duku dan durian di desanya sudah hampir selesai. Menurut dia, musim duku dan durian sudah mulai beberapa hari setelah lebaran Idul Fitri 1442 H.

Ia juga memiliki sekitar 15 pohon duku dan 50-an lebih pohon durian. Hasil panen dua jenis buah ini, selain dikonsumsi sendiri juga untuk dijual ke berbagai daerah. Tahun ini, kata Ican, buah durian cukup banyak. Satu pohon durian, rata-rata menghasilkan 300-an buah. Beda dengan duku, dari 15 batang cuma berbuah 3-4 pohon saja.

“Jadi yang Bapak kirim ini istilahnya buah ujung. Sebelumnya sudah banyak dijual ke berbagai daerah,” katanya.

Ia menyebut, sistem jual beli durian di desanya hampir sama dengan daerah lainnya. Selain menjual dalam kondisi matang atau jatuh dari pohon, juga ada yang membeli buah yang masih di batang. Satu buah durian matang dihargai Rp15 ribu-Rp17 ribu, sedangkan yang masih di pohon sekitar Rp10 ribu. Sedangkan duku dijual Rp5000 per kilogram.

“Kalau sekarang sudah tinggal buah sisa jual. Kalau sekada untuk makan masih ada, tapi kalau untuk jual sudah tidak mencukupi,” kata Ican.(Ron)