SEMARANG,HS – Kesejahteraan guru honorer Kementerian Agama (Kemenag) masih jauh di bawah harapan. Hal itulah yang membuat Kemenag berencana untuk menaikan gaji guru honorer Kemenang. Menurut Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, Ali Rhamdani, nasib guru agama dan guru madrasah non PNS di Kemenag selama ini sulit untuk dipecahkan.

“Banyaknya guru honorer yang belum disertifikasi tidak sebanding dengan kuota pengangkatan per tahun. Bila tidak ada lompatan, akan banyak guru-guru yang tak pernah merasakan sertifikasi sampai pensiun,” katanya pada saat acara Evaluasi Pelaksanaan Program Profesi Guru dan Tenaga Pendidikan di Hotel Aston, Semarang, Kamis (3/9/2020).

Padahal, menurutnya, Guru honorer mendapat beban tugas yang sama dengan guru PNS. Tentu hal itu dirasakan tidak adil bagi guru-guru honorer.

“Mereka mengajar dengan jumlah jam yang sama tingginya. Namun kesejahteraannya jauh di bawah PNS. Sampai saat ini, guru honorer non sertifikasi dan non penyesuaian (inpassing) hanya mendapat gaji dari pemerintah sebesar Rp250 ribu per bulan dan sedikit tambahan insentif dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS),” sebutnya seperti dalam rilis tertulis Kemenang.

Menurut Dirjen Pendis, gaji guru honorer yang diberikan itu memang sifatnya sebagai pendukung saja bukan tarif dasar. Namun angkanya masih sangat jauh di bawah garis kebutuhan hidup.

“Ke depan, kita akan melihat lagi permasalahan ini untuk dicarikan solusi yang terbaik. Penghargaan kepada guru itu penting sebagai cara pemerintah menghargai karya bhakti anak bangsa. Memang salah satu tujuan acara evaluasi adalah mencari titik kekurangan untuk diperbaiki. Keluhan-keluhan guru akan kita tangkap betul dan kami respek terhadap persoalan ini,” katanya.

Staf Ahli Menteri Agama Kevin Haikal mengungkapkan, pada masa pandemi ini kesulitan guru menjadi meningkat. Tentang pembelajaran jarak jauh, ia melihat banyak kendala di lapangan. Bahkan ada yang melapor, sebagian guru di desa-desa ada yang harus berkeliling rumah-rumah sebagian siswanya karena sekeluarga tidak ada yang memiliki ponsel.

“Dengan cara jemput bola seperti itu, pastinya energinya akan sangat besar dan biayanya pasti akan meningkat. Ia ingin memastikan, negara hadir pada saat seperti itu. Tunjangan profesi guru sebenarnya salah satu bentuk kehadiran negara walaupun jumlahnya belum sesuai harapan,” katanya.

Saat ini kuota sertifikasi setiap tahun adalah 10 ribu orang. Bila saat ini terdapat 400 ribu guru honorer yang belum sertifikasi, maka diperlukan waktu 40 tahun mengentaskan mereka semua. Itupun jumlahnya segera bertambah lagi.

Terdapat tiga kategori tunjangan guru bukan PNS.

Pertama, guru Non PNS yang sudah sertifikasi dan juga sudah inpassing (penyesuaian). Mereka mendapat hak tunjangannya sebagaimana guru PNS.

Kedua, guru Non PNS yang belum sertifikasi tetapi sudah inpassing. Mereka mendapat tunjangan sebesar Rp 1,5 juta per bulan dan honor kelebihan jam mengajar.

Ketiga, guru yang belum sertifikasi dan belum inpassing. Mereka mendapat insentif sebesar Rp250.000 per bulan, dan honor tenaga mengajar yang bersumber dari dana BOS. (Siberindo.co)