Muhammad Bejita berhasil membanggakan SMAN 10 Palembang berkat prestasinya di olahraga renang

Muhammad Bejita berhasil membanggakan SMAN 10 Palembang berkat prestasinya di olahraga renang

                     * Siswa SMAN 10 Palembang Harumkan Nama Sumsel

PALEMBANG, HS – Berbicara soal dunia olahraga renang di Sumatera Selatan, tak lengkap kiranya jika kita tak menyebut nama Muhammad Bejita. Selain karena prestasinya diberbagai ajang olahraga renang, dia dikenang  atlet renang asal kota Palembang sebagai peraih medali emas dan memecahkan rekor tiga nomor lomba renang di Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV/2016 Jawa Barat yang dilaksanakan di Kota Bandung.

NAMANYA Muhammad Bejita atau biasa dipanggil Bejita. Remaja kelahiran Palembang 7 Oktober 2000 yang kini tercatat sebagai siswa kelas 11 di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 10 Palembang dipimpin oleh kepala sekolah Fir Azwar, itu ternyata memiliki prestasi di cabang olahraga renang.

Di Peparnas XV/2016 Jawa Barat yang digelar Oktober 2016, Bejita menyapu bersih tiga medali emas cabang olahraga renang. Kali ini, ia berhasil memecahkan rekor ASEAN Paragames untuk cabang olahraga renang 100 meter gaya punggung S14 putra, yakni memecahkan rekor atas nama atlet Singapura, Tan Eng Kiong (dari 01.12 detik menjadi 01.08 detik) dan pemecah rekor Peparnas 2012/Riau (dari 01.30 detik menjadi 01.08 detik).

Fir Azwar Kepala SMAN 10 Palembang foto bersama dengan Muhammad Bejita

Fir Azwar Kepala SMAN 10 Palembang foto bersama dengan Muhammad Bejita

Berikutnya rekor ASEAN Paragames kedua (ASEAN Paragames 2015) yang dipecahkan oleh prestasi M Bejita di Peparnas XV adalah untuk nomor 50 meter gaya punggung S14 putra atas nama atlet Singapura, Han Hiang C (dari 00.35 detik menjadi 00.31 detik).

“Alhamdulillah, saya senang sekali. Ini (medali emas-red) saya persembahkan untuk Mama dan Papa saya,” tutur Bejita kepada HALUAN SUMATERA, Jumat (29/10).

Jauh sebelum Peparnas XV/2016 di Jawa Barat, Bejita yang juga spesialis renang gaya punggung bersama sang ayah terus giat berlatih renang.

“Saya belajar renang sejak Taman Kanak-kanak. Kebetulan Papa kan mantan atlet renang,” Bejita coba berkisah.

Ketika duduk di bangku Sekolah Dasar, Bejita pun sudah memberanikan diri mengikuti kejuaraan renang. Berkat latihan yang rutin dan disiplin serta kerja keras, putra pertama dari pasangan Muhammad Candrawasi dan Hepy Yulis ini juga beberapa kali menunai prestasi renang di berbagai kejuaraan renang yang digelar di kota Palembang.

“Waktu kelas 1 SD, saya pernah dapat medali emas. Tapi yang paling berkesan ya..saat ikut Paralimpik di Bandung,” cetus Bejita yang memiliki postur tubuh tinggi 178 centimeter dan berat badan 60 kilogram.

Bejita yang bercita-cita ingin jadi polisi ini bercerita, ia tidak pernah menyangka bakal bisa memecahkan rekor yang diukir oleh atlet renang dari ASEAN. Namun begitu, latihan yang keras dan pola makan adalah kunci sukses yang dipegang oleh Bejita untuk bisa berprestasi di olahraga renang.

“Dari Senin hingga Jumat saya tetap berlatih renang, biasanya sepulang sekolah. Nah, hari Minggu baru latihan khusus dengan Papa di Danau Sky Air Jakabaring. Di sana, saya berenang sambil narik perahu. Ya, latihannya cukup berat…he..he..he,” kata kakak kandung dari Sandress Event, M Akasyah, Arza Qona, dan Kamzul Arasi.

Muhammad Bejita bersama orangtuanya

Muhammad Bejita bersama orangtuanya

Kepala SMAN 10 Palembang Fir Azwar mengaku bangga dengan prestasi salah satu anak didiknya itu yang mengharumkan nama Sumsel di kancah nasional.

“Mampu mewakili SMAN 10 Palembang saja, sudah bangga. Apalagi Sumatera Selatan,” ungkap Fir Azwar.

Pastinya, lanjut Fir, catatan prestasi yang diraih Bejita diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi peserta didik yang ada di SMAN 10 Palembang serta para generasi muda di kota Palembang. Di saat mengikuti Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV/2016 Jawa Barat nama Muhammad Bejita dibilang cukup disegani.

“Tiga medali emas yang ditorehkan Bejita membuktikan bahwa SMAN 10 Palembang juga melahirkan bibit-bibit atlet renang yang mumpuni,” Fir Azwar menyebutkan.

Bejita adalah contoh atlet muda yang sukses menjembatani dunia akademik dengan dunia keatletan. Upaya kerasnya untuk tetap menomorsatukan pendidikan juga bagian dari sebuah prestasi tersendiri yang tak semua atlet bisa menjalaninya.

Ucap Fir, pihak sekolah berkomitmen untuk mendukung prestasi anak didik tidak hanya di bidang akademik tetapi juga non-akademik termasuk bidang olahraga. Sekolah telah memberikan fasilitas bagi anak didiknya untuk berlatih sesuai dengan minat dan bakatnya. (ERS)