PALEMBANG,HS – Hanya butuh waktu sekitar 60 hari saja, jembatan darurat pinjaman yang diusulkan Gubernur Sumsel H.Herman Deru ke Kementerian PUPR melalui Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah V Palembang untuk mengantisipasi putusnya Jembatan Mulak Ulu Lahat, akhirnya rampung dan resmi dioperasionalkan.

Hal ini tak pelak membuat masyarakat sekitar merasa lega, karena mereka tak lagi terisolir pasca terjadi musibah putusnya Jembatan Mulak Ulu, yang menghubungkan jalan lintas Kab Lahat dengan Jalan lintas Muara Enim, pada Minggu (29/12/2019) lalu.

Jembatan darurat atau bailey sendiri merupakan jembatan rangka baja yang umumnya digunakan sebagai jembatan darurat yang bersifat sementara. Dengan jembatan ini diharapkan warga tidak terisolir sampai perbaikan jembatan dilakukan.

Dijelaskan Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Tata Ruang (PUBM-TR) Pemprov Sumsel, Darma Budhy bahwa jembatan Bailey yang dibangun sifatnya masih darurat. Adapun bentang jembatan yang dipinjam dari Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah V Palembang memiliki panjang sekitar 30 meter.

 “Jembatan ini dipinjam dari BBPJN Wilayah V Palembang dan ini gratis. Tapi kita tetap mengeluarkan biaya untuk jalan penunjang di sekitar jembatan sepanjang 230 meter,” ujar Darma Budhy.

Selanjutnya setelah dibangun jembatan bailey  tersebjt kata Budhy tahun ini Pemprov melalui Dinas PUBM-TR Sumsel menganggarkan dana sebesar Rp 19 miliar untuk pembangunan jembatan permanen.

Agar konstruksinya lebih kuat dan tahan dari terjangan arus, konstruksinya akan dibuat dengan dua bentang jembatan yang masing-masing sepanjang 30 meter dan 50 meter. Sedangkan panjang total jembatan itu akan dibuat dua kali lipat panjangnya dari jembatan lama sepanjang 80 meter.

Saat ini jelas Budhy proses tender jembatan  itu tengah dilakukan dan ditargetkan  dapat rampung paling lambat Mei mendatang. Sehingga secepatnya bisa tanda tangan kontrak dan dilakukan pengerjaan dan ditargetkan pada bulan November nanti sudah selesai agar bisa dioperasionalkan akhir tahun.

Untuk sementara ini karena sifatnya darurat,  jembatan Bailey yang sudah dibangun masih belum bisa dilalui oleh kendaraan bertonase berat.  Batas beban jembatan hanya mampu dilintasi kendaraan dengan berat maksimal 5 ton.

“Makanya kami mengharapkan kerjasama dengan pemerintah daerah untuk menjaga jembatan dari kendaraan yang punya bobot diatas 10 ton. Soalnya kalau lebih dari khawatir konstruksi jembatannya alan rusak,” tambah Budhy.

Selain jembatan Mulak, beber Budhy Pemprov juga telah menganggarkan dana untuk perbaikan dan penyelesaian pembangunan jembatan lainnya di Kabupaten Lahat. Diantaranya penyelesaian jembatan Air Lematang yang telah tertunda sejak 2014 lalu.

 “Totalnya ada Rp41 miliar. Yakni di APBD Induk dianggarkan Rp 20 miliar. Selanjutnya di APBD Perubahan ditambah lagi sebesar Rp 21 miliar,” kata Budhy.

Soal kabar gembira ini juga dibenarkan Wakil Bupati Lahat, H Haryanto. Menurutnya masyarakat sangat menantikan penyelesaian pembangunan jembatan darurat tersebut. Karena membantu mempermudah akses distribusi hasil panen buah mereka salah satunya durian.

Oleh karena itu Ia mewakili masyarakat setempat merasa sangat berterima kasih dengan respon cepat yang sudah dilakukan Gubernur Sumsel H.Herman Deru. Sehingga  pembangunan jembatan darurat ini tidak membutuhkan waktu yang lama.