• Seni Budaya
  • Lebih di Kenal di Luar Sumsel, Sosok Sang Nila Utama Harus Disosialisasikan di Palembang

Lebih di Kenal di Luar Sumsel, Sosok Sang Nila Utama Harus Disosialisasikan di Palembang

1 tahun ago
230

PALEMBANG,HALUANSUMATERA.COM–Forum Pariwisata dan Kebudayaan (Forwida) berkerjasama dengan UT Palembang menggelar webinar online dengan tema Sang Nila Utama : The Founding Father Bangsa Melayu, Senin (27/2) di kampus UT Palembang Jalan Kol. H. Burlian KM. 10, Karya Baru, Alang-Alang Lebar, Palembang.


Dengan narasumber sejarawan dari Universitas Sriwijaya (Unsri) Dr Dedi Irwanto SS MA, sejarawan dari UIN Raden Fatah Palembang Dr (Cand) Kemas Ari Panji Spd Msi dan Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R.M.Fauwaz Diradja,S.H.M.Kn.
Menurut sejarawan dari Universitas Sriwijaya (Unsri) Dr Dedi Irwanto SS MA jejak Sang Nila Utama di Palembang sama sekali tidak pernah di-“konkrit”-kan seperti di Singapura.


Jejak Sang Nila Utama di Kota Palembang, terutama di Bukit Siguntang menurutnya masih sangat abu-abu kalau tidak mau dikatakan gelap , seakan tak ada kepedulian akan tokoh pemersatu pan-Melayuisme ini.


“Jangankan untuk buat peradaban budaya hanya untuk membangkitkan kegiatan wisata di Palembang dari narasi yang “telah ada” pun tidak ada pikiran sama sekali,”katanya.
Secara teoritis menurutnya dalam dunia Melayu membangun peradaban adalah tanggung jawab pemimpin masyarakat .


“Jadi tidak semua orang mampu mengembannya. Seperti pepatah Melayu pemimpin : “orang yang didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, orang yang dipercaya, orang yang dalam bahasa agama disebut dengan “Innama bu’istu liutam mimmna” (Sesungguhnya tidak diutus (Muhammad SAW) kecuali untuk memperbaiki akhlak (peradaban). Artinya, pemimpin dalam dunia Melayu sangat dikultus dan akan di riwayatkan secara turun temurun laksana Sang Nila Utama membangun Singapura ,” katanya.


Selain itu Sang Nila Utama menurutnya adalah pembangun peradaban Melayu yang sungguh luar biasa karyanya.


Sang Nila Utama dan anak cicitnya adalah pemimpin besar maka pewaris Sang Nila Utama saat ini di Kota Palembang harusnya menjiwai Sang Nila Utama masa lalu , bukan pemimpin yang tak teguh memegang amanah dan sumpah setia, tak pemimpin yang terpancing oleh maksud-maksud orang yang menangguk di air keruh, bukan pemimpin nan tak tahu asal-usulnya.

“Jika ada pemimpin seperti ini bersiaplah nanti akan berakibat di makan sumpah Melayu (cepat atau lambat dimakan “bisa keris” (biso kowi) dalam arti, ke atas tidak berpucuk, ke bawah tidak berurat, di tengah digigit kumbang,” katanya.


Pada filosofi Melayu menurut Dedim jika pemimpin ada berlaku seperti di atas, kemudian ditambah kurang terurus hak cagar budaya (ulayat), gedung-gedung cagar budaya (ulayat) dan segala isinya, lembaga dan peninggalan sejarah, pusaka kebesaran adat dan pusaka tinggi daerah ditelantarkan dengan penggunaannya tanpa ada permusyawarahan, dengan memberlakukan dan mengandalkan kekuasaan sendiri atau otoriter.


“ Selayak adat tanpa dimusyawarahkan secara bersama dengan unsur tali bepilin tiga (tigo tungku sejarangan) dengan dilengkapi berita acara kesepakatan masyarakat negeri maka menurut hemat saya, Forwida harus tampil ke depan memimpin agar cagar budaya dapat dijadikan destinasi wisata mandiri dengan mengutamakan filosofis Melayu lainnya “Kukuk ayam yang didengar, piagam yang dipegang.

Kalau ini bisa dilakukan oleh Forwida maka marwah Pan-Melayuisme dalam Dunia Pariwisata berbasis Melayu di Palembang dan Sumatera Selatan tak sulit untuk diwujudkan. maka, “hanya sekedar” menghadirkan patung Sang Nila Utama seperti di Singapura pada Lereng Bukit Siguntang setinggi Jembatan Ampera bukan sesuatu yang sulit,” katanya.


Hal senada dikemukakan sejarawan dari UIN Raden Fatah Palembang Dr (Cand) Kemas Ari Panji Spd Msi mengajak Palembang harus lebih menggiatkan kembali literasi tentang Sang Nila Utama, kalau di Singapura ada Patung Sang Nila Utama , di Riau ada museum Sang Nila Utama, tapi Palembang menurutnya bisa melekatkan hal-hal khusus dengan nama Sang Nila Utama apakah dijadikan nama Jalan atau bangunan di Palembang.


Selain itu Kemas Ari Panji juga melihat ada tumpang tindihnya sejarah Sang Nila Utama ini karena informasinya bercampur aduk ada melalui dongeng ada melalui catatan sejarah , ada berdasarkan naskah kadang menjadi tidak jelas sejarah Sang Nila Utama ini.


“ Perlunya kita mengangkat data ilmiah mengenai sosok Sang Nila Utama supaya tidak tergerus oleh data-data mitologi atau dogeng saja, karena semala ini cerita Sang Nila Utama banyak cerita mitosnya daripada data ilmiahnya,” katanya.


Sehingga menurutnya sudah sepantasnya Palembang bangga dengan tokoh bernama Sang Nila Utama ini.


“ Karena itu sosok Sang Nila Utama ini harus di munculkan dan dan harus di sosialisasikan di Palembang, “ katanya.

Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R.M.Fauwaz Diradja,S.H.M.Kn menilai Sang Nila Utama layak di besarkan kembali di Palembang karena Sang Nila utama memiliki peranan bukan di Palembang saja tapi juga menjadi ikon terbentuknya melayu, sehingga sudah layak sebagai bangsa termasuk palembang menguatkan kembali dan membesarkan nama Sang nila Utama di Palembang
SMB IV juga menyayangkan kalau nama Sang Nila Utama besar di negara lain tapi di Palembang tidak ada ikon yang menguatkan keberadaan Sang Nila Utama.


Sang Nilai Utama harus di bentuk apakah ada Universitas menggunakan nama Sang Nila Utama ini untuk meningkatkan rasa nasionalitas dan persatuan di hadapan bangsa melayu,” katanya.


Apalagi Sang Nila Utama yang terdapat dalam buku sulalatus salatin merupakan rangkaian cerita mengenai keberadaan bangsa-bangsa melayu yang di yakini oleh bangsa Melayu Sang Nila Utama merupakan founding father yang berasal dari Palembang , dimana Sang Nila Utama telah mendirikan Singapura dan keturunannya mendirikan Malaka.

O
“Bukit Seguntang yang berada di kota Palembang menjadi harus menjadi Icon dimulainya peradaban bangsa melayu karena sepantasnya slogannya Palembang Hulu Melayu,” katanya.


Ketua Umum Forwida Dr Ir Diah Kusuma Pratiwi MT CIAP mengapresiasi webinar ini termasuk masukan-masukannya.
Dia juga mengapresiasi usulan pembentukan pusat kajian melayu nusantara dan akan berupaya merealisasikan .


“ Sang Nila Utama saya pikir, walaupun itu data faktual kurang namun beberapa hal bisa dijadikan acuan dan rekan-rekan sejarawan bisa mendapatkan data faktual tersebut , “ katanya.

Kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel Aufa Syahrizal Sarkomi Msi Ph D mengapresiasi webinar ini.


“ Ini topir seminar yang menarik dan pentingnya kita untuk mencoba menggali kembali sejarah dan peradaban budaya di Sumsel ,” katanya.


Sedangkan Direktur Universitas Terbuka (UT) Palembang Dr Meita Istianda Msi melihat sosok Sang Nila Utama lebih banyak di kenal di luar Sumsel , malahan menurutnya banyak orang diluar Sumsel berkunjung ke Palembang untuk lebih mengenal sosok Sang Nilai Utama .


Meita sepakat agar kedepan sosok Sang Nila Utama banyak di kenalkan kepada masyarakat Sumsel terutama di kota Palembang.


“ Bagusnya webinar ini jangan di gelar satu kali saja tapi harus di buat berseri,” katanya.